LANGIT7.ID-, Jakarta - -
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menganugerahkan penghargaan kepada lima ulama yang dinilai berjasa besar dalam menyebarkan
dakwah Islam sekaligus meneguhkan semangat kebangsaan,
Pancasila, dan cinta Tanah Air.
Penghargaan tersebut menjadi bagian dari puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-28 PKB yang digelar di
Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Kamis malam (23/7/2026).
Penghargaan diserahkan langsung oleh Plt. Ketua Dewan Syuro DPP PKB KH Manarul Hidayah bersama Sekjen DPP PKB M Hasanuddin Wahid.
Baca juga: Ma'ruf Amin Mundur dari Ketua Wantim MUI dan Dewan Syuro PKBWakil Ketua Umum DPP PKB Cucun Ahmad Syamsurijal mengatakan, kelima tokoh tersebut dipilih karena sepanjang hidupnya mengabdikan diri untuk pendidikan pesantren, dakwah Islam, serta menjaga persatuan bangsa.
Menurut Cucun, penghargaan ini merupakan bentuk penghormatan kepada para kiai yang telah menunjukkan bahwa dakwah Islam dapat berjalan seiring dengan penguatan
nasionalisme dan kecintaan kepada Indonesia.
"Penghargaan PKB ini kami persembahkan kepada para kiai yang berdakwah menanamkan nilai-nilai keislaman dalam satu tarikan napas yang menyatu dengan nasionalisme, Pancasila, dan cinta Tanah Air, menggunakan bahasa rakyat yang mudah dipahami oleh umat," ujar Cucun dalam keterangan resmi, Jumat (24/7/2026).
Ia menambahkan, para ulama tersebut telah memberikan teladan bahwa mengamalkan ajaran Islam tidak dapat dipisahkan dari komitmen menjaga persatuan dan keutuhan bangsa.
"Sepanjang hidup beliau-beliau mendedikasikan diri untuk mendidik umat dan rakyat bahwa mencintai Indonesia sama pentingnya dengan mencintai agamanya. Menerapkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari sama mulianya dengan melaksanakan rukun Islam," lanjutnya.
Adapun lima tokoh kiai yang menerima penghargaan dalam Harlah ke-28 PKB yaitu:
Baca juga: Sekjen PKB: Tayangan Trans7 Lukai Santri se Indonesia1. KH Sahal Mahfudh (penghargaan diterima oleh putranya, Gus Abdul Ghoffar Rozin)KH Sahal Mahfudh merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati, Jawa Tengah, sekaligus pernah menjabat Rais Aam PBNU periode 1999–2014. Almarhum dikenal sebagai ulama yang konsisten mengembangkan pendidikan pesantren dan berdakwah ke berbagai daerah dengan membawa pesan akhlak, keislaman, nasionalisme, serta kecintaan kepada Tanah Air.
2. KH Hasyim Muzadi (diwakili putranya, Gus Yusron Hasyim Muzadi)Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam sekaligus Ketua Umum PBNU periode 2000–2010 ini dikenal sebagai tokoh yang memperkenalkan Islam moderat di tingkat nasional maupun internasional. Dakwahnya menjangkau berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum, lingkungan akademik, hingga forum dialog antarperadaban.
3. KH Imron Hamzah (diwakili istri almarhum)KH Imron Hamzah dikenal sebagai mubalig dengan gaya ceramah yang tegas, berwibawa, dan mudah dipahami masyarakat. Selain aktif berdakwah, beliau pernah mengemban amanah sebagai Ketua PWNU Jawa Timur serta anggota MPR RI periode 1987–1997.
4. KH Ahmad Faqih (diwakili putranya, KH Mali Murtadlo, Lc.)Pengasuh Pondok Pesantren Al-Musri, Cianjur, ini dikenal sebagai ulama pejuang yang mengabdikan hidupnya untuk dakwah dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Beliau pernah ditahan tentara Jepang karena terlibat perjuangan bersama KH Zainal Mustofa melawan penjajah. Pesantren yang didirikannya pun sempat dibakar tentara Belanda dalam masa mempertahankan kemerdekaan.
Baca juga: Prabowo Hadiri Puncak Harlah PKB 2025, Disambut Meriah di JCC5. KH Bukhori Masruri (diwakili putranya, Gus Farham Fuad)KH Bukhori Masruri merupakan ulama yang memanfaatkan seni dan budaya sebagai sarana dakwah. Melalui karya-karyanya, ia menyampaikan pesan Islam, persatuan, nasionalisme, dan Pancasila kepada masyarakat. Almarhum dikenal sebagai pencipta lagu "Perdamaian" yang dipopulerkan grup Bimbo, menggunakan nama pena Abu Ali Haidar. Selain itu, beliau pernah menjabat Ketua PWNU Jawa Tengah periode 1985–1995.
Melalui penghargaan ini, PKB menegaskan komitmennya untuk terus menjaga warisan perjuangan para ulama serta pesantren yang telah memberikan kontribusi besar bagi kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara. Keteladanan para kiai diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi penerus dalam merawat harmoni antara nilai-nilai Islam, semangat kebangsaan, dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
(est)