LANGIT7.ID - , Jakarta - Kejahatan dapat terjadi di mana saja, tak terkecuali di ranah digital. Selain membawa kemudahan, teknologi digital juga membuka peluang terbukanya kejahatan. Salah satunya kejahatan di sektor perbankan digital seperti
card skimming, phising, atau
carding. Baru-baru pengguna salah satu bank terbesar di Indonesia, Hebbi Agus Kurniawan, mencuitkan kekesalannya karena tabungannya berhasil dikuras sebanyak Rp135 juta melalui anjungan tunai mandiri (ATM). Padahal, kartu ATM miliknya tersimpan rapi di rumah.
Baca juga: Gunakan Ambush Marketing, Paris Fashion Show Dianggap PenipuanPembobolan uang tersebut terjadi pada Minggu, 27 Maret 2022 pukul 01.00 wib via penarikan ATM. Cuitan tersebut pun ditanggapi warganet yang membagikan kisah mereka terkena kejahatan digital seperti
scamming atau
phising. Akun penyedia konten keuangan, Big Alpha mengatakan
scamming atau
phising memiliki perbedaan dalam hal pola penyadapan.
"Phishing itu aktivitas menyadap di internet menggunakan
keylogger. Kalau
skimming itu untuk membaca atau menyalin aktivitas kartu debit atau kredit," jelas Big Alpha kepada Langit7, Senin (28/3/2022).
Agar terhindar dari penipuan digital seperti skimming dan phising, Big Alpha membagikan beberapa kiat untuk itu.
Baca juga: Atasi Tantangan Perbankan di 2022, BSI Dorong Peningkatan Inklusi KeuanganPertama, hindari menumpuk uang tunai terlalu banyak di rekening. Jika memungkinkan, pindahkan ke instrumen yang butuh beberapa tahapan untuk proses pencairan seperti reksadana pasar uang, deposito, dan lainnya.
"Di era suku bunga rendah seperti sekarang,
cash is trash. Pindahkan uang ke instrumen yang memberikan imbal hasil yang lebih tinggi," ungkap akun @BigAlphaID.
Selanjutnya, ketika ada masalah dengan rekening Anda, jangan mengadu di media sosial seperti Twitter. Alangkah baiknya Anda langsung telepon ke layanan konsumen yang tersedia dari bank tersebut.
"Pun ketika mencuit di Twitter, batasi mention yang masuk dengan cara seperti ini. Jadi, notifikasi dan mention dari akun-akun yang belum memverifikasi email dan no HP tidak bisa terlihat," katanya.
Kemudian, gunakan kartu kredit daripada kartu debit. Ini hanya saran, jika Anda ingin ikut boleh, jika tidak jadi persoalan. Menurut Big Alpha, bank akan lebih responsif jika terjadi masalah dengan kartu kredit. Contoh
unauthorized transactions, blokir memblokir, dan lainnya.
Baca juga: BSI Tingkatkan Literasi Keuangan dan Perbankan Syariah Lewat KampusLebih lanjut, jangan sembarangan mengklik link di internet, terutama link yang sudah dipendekkan (
shortened links). Karena,
link yang seperti ini biasanya disusupi
software keylogger, sebuah
software yang bisa merekam aktivitasmu berdasarkan ketukan di
keyboard. Sehingga
software ini bisa merekam
username dan
password milikmu.
Terpenting, jangan pernah memberikan
username, password, atau OTP kepada siapapun, termasuk pihak yang mengaku dari bank. Terdengar klise, tetapi hal ini masih sangat banyak yang melakukannya.
"Aktifkan
two-factor authentication di aplikasi perbankan. Jadi ketika ada
device baru yang mencoba login ke akun kita (dengan
username dan
password yang sudah didapat), akan ada notifikasi dan
authentification lanjutan yang masuk," pungkasnya.
(est)