LANGIT7.ID, Jakarta -
Generasi Z sangat lekat dengan dampak negatif generasi
cyber seperti perlaku asosial, terburu-buru dan tidak teliti, tidak tangguh dalam proses dan mudah putus asa, techno junkies, konsumtif, serta mudah ikut-ikutan dan dipengaruhi.
Dalam kondisi apapun, termasuk era moderen saat ini, Allah sudah memberikan bimbingan dalam Al-Qur’an. Orang tua tinggal belajar dan mengambil intisari dari Al Qur’an untuk mendidik Gen Z agar tidak berperilaku negatif.
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا
Baca Juga: Tantangan Mendidik Gen Z agar Tetap Teguh pada Agama di Era Disrupsi“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) nya. Oleh karena itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (QS An-Nisa: 9)
Pakar parenting, Ustaz Bendri Jaisyurrahman, menjelaskan, ayat tersebut Allah Ta’ala menjelaskan bahwa ciri anak-anak lemah ada tiga, yaitu:
1. Tangguh Melewati Ujian KesulitanAnak yang lemah berarti tidak tangguh dalam melewati ujian kesulitan. Maka itu, tangguh melewati ujian kesulitan bisa diterapkan sebagai salah satu aspek didik anak. Ini agar mereka memiliki kemampuan dan kekuatan mental untuk menghadap berbagai rintangan dan kesulitan hidup.
Baca Juga: Tren 2023, Gen Z Pilih Fesyen Muslim Minim Detail dengan Warna BeraniDengan begitu, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan mampu berpikir positif serta mengatasi masalah dengan baik.
“Makanya tugas kita adalah menciptakan anak-anak yang tangguh dalam melewati ujian kesulitan,” kata Bendri dalam webinar Fatherman yang diikuti
Langit7.id, dikutip Senin (13/2/2023).
2. Tangguh Melewati Ujian SyahwatBendri menyebut setidaknya ada dua ciri anak yang tidak tangguh dalam ujian syahwat. Pertama, mudah galau atau lari dari masalah sekecil apapun itu. Saat ini lebih dikenal dengan generasi stroberi, mudah rapuh saat mendapatkan masalah.
Baca Juga: Dakwah Ala Anak Muda Harus Kontekstual dan EleganKedua, anak tidak berani berkata “tidak” terhadap sesuatu yang tidak disukai. Mereka cenderung mengatakan terserah yang menujukkan tidak punya kemampuan kontrol dan tidak punya otoritas diri.
“Tidak bisa berkata tidak terhadap sesuatu yang tidak disukai. Cenderung “terserah”. Kalimat orang-orang yang mudah terprovokasi syahwat adalah mudah mengucapkan “terserah’, karena tidak punya kemampuan kontrol dan tidak punya otoritas diri,” ucap Bendri.
Oleh karena itu, orang tua harus menanamkan nilai-nilai keimanan sejak dini, mendidik anak tentang pentingnya pengendalian diri, memberikan contoh yang baik, membentuk kebiasaan baik, dan memberikan pendidikan seksual.
Baca Juga: Rachel Amanda Ajak Gen Z Aktif di Kegiatan Positif3. Tangguh Melewati Ujian MarahCiri ketiga anak yang lemah adalah tidak bisa melewati ujian marah. Maka itu, orang tua harus memberikan pendidikan emosi dan mengajarkan teknik mengatasi marah sejak dini seperti mengambil nafas dalam-dalam, berbicara dengan diri sendiri, atau berfikir positif.
Anak juga harus diajari berbicara dengan jelas dan terbuka tentang perasaannya. Di sisi lain, orang tua harus menjadi pendengar yang baik dan memberikan dukungan. Orang tua harus membantu anak mengatasi perasaan dan membantu mengatasi masalah yang membuat dia marah.
“Anak mudah marah dan emosional juga di antara karakter yang rusak. Karena itulah orang tua harus mencetak anak-anak yang tangguh,” pungkas Bendri.
(jqf)