Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 April 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Dakwah Ala Anak Muda Harus Kontekstual dan Elegan

Muhajirin Jum'at, 28 Oktober 2022 - 15:40 WIB
Dakwah Ala Anak Muda Harus Kontekstual dan Elegan
ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID, Jakarta - Dakwah kepada generasi muda perlu sentuhan khusus. Apalagi anak muda bisa mengakses informasi sendiri. Itu membuat para pendakwah harus mampu menyajikan suguhan dakwah yang menarik bagi mereka. Apalagi jika pendakwahnya juga pemuda. Dakwah harus kontekstual dan elegan.

Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Prof.Dr. Fathul Wahid, mengatakan, dakwah bagi seorang muslim merupakan kerja sepanjang hayat. Tidak hanya dalam bentuk ajakan lisan, tetapi termasuk pemberian contoh dalam aktivitas sehari-hari untuk mengedukasi orang lain tentang nilai-nilai baik dan kebenaran.

“Seorang muslim yang menampilkan sikap ramah terhadap sesama, dapat bermuatan dakwah. Dampak sikap ramah ini akan sangat luar biasa di konteks ketika islamophobia berkembang pesat,” kata Prof Fathul dalam tulisannya di laman resmi UII, dikutip Jumat (28/10/2022).

Baca Juga: Para Pemuda Istimewa, Sahabat Rasulullah yang Beriman Sejak Muda

Prof Fathul mencontohkan, anak muda bisa belajar dari Mohamed Salah, pemain sepakbola muslim klub Liverpool, yang berasal dari Mesir. Dia merupakan contoh fenomenal untuk memberikan ilustrasi. Kehadiran Salah di Merseyside telah berandil dalam penurunan kriminalitas sebanyak 18,9%. Cuit anti-Muslim di twitter yang diunggah pendukung Liverpool pun menurun 50%.

Mengutip laman weforum.org, Salah menampilkan diri sebagai seorang ayah yang ceria dan pesepakbola ramah dan fantastic. Itu membalikkan kesan negatif terhadap Islam yang dipersepsikan menakutkan.

Salah telah mengakrabkan penggemarnya dengan Islam. Kesimpulan ini didasarkan pada survei terhadap 8.000 penggemar Liverpool yang dilakukan oleh tim dari Stanford University. Menurut Fathul, itu yang disebut sebagai contoh dakwah kontekstual.

Baca Juga: Selain Cetak Hattrick ke Gawang MU, Salah Juga Harumkan Citra Islam di Inggris

Dakwah kontekstual dapat secara sederhana didefinisikan sebagai ikhtiar mengajak orang lain kepada nilai-nilai baik dan kebenaran yang disesuaikan dengan konteks yakni lokasi geografis dan kualifikasi personal audiens.

“Ilustrasi Salah di Liverpool bisa menjadi lokasi contoh lokasi geografis dakwah dan pendekatan Rasulullah terhadap orang badui merupakan amsal audiens dakwah,” kata Fathul.

Rasulullah SAW diutus dengan peran membawa kabar gembira dan memberi peringatan. Dalam dakwah, seorang muslim mengikuti Rasulullah. Namun di lapangan, seringkali justru berfokus pada yang kedua, sehingga mengesankan surga menjadi sangat elitis. Kabar gembira jarang didendangkan dalam dakwah.

Surah An-Nahl ayat 125 memberikan inspirasi terkait pendekatan dakwah yang bisa didiskusikan dan diadopsi. Ada tiga pendekatan yakni bil al-hikmah, bil mauidzah al-hasanah, dan bil al-mujadalah.

Baca Juga: Ustadz Muda Hanan Attaki, Dakwah Gaul untuk Rangkul Milenial

Ibarat bepergian bersama menggunakan mobil, hikmah digunakan untuk mengajak orang baru untuk naik mobil. Kesan pertama harus baik agar orang tergerak.

Setelah orang itu naik mobil, bisa saling kenal lebih jauh. Di sini pertukaran ide baik mulai terjadi. Pendekatan bil mauidzah al-hasanah dengan pemberian nasihat, bimbingan, dan peringatan yang baik bisa digunakan di sini.

“Ketika kedekatan sudah terjalin di dalam mobil, barulah diskusi atau debat dengan logika mungkin berlangsung dengan baik. Inilah strategi muadalah yang dapat digunakan untuk membangun hubungan yang lebih akrab,” kata Fathul.

Menurut Fathul, salah memahami konteks, seperti membalik urutan dakwah, berpotensi menimbulkan masalah. Misal, strategi debat langsung digunakan di awal ketika orang belum mengenal ajaran Islam. Alih-alih mendekat, kesan yang muncul pun bisa tidak sesuai harapan, apalagi jika debat terjebak pada emosi yang tidak terkendali.

Baca Juga: 5 Ustadz Muda yang Berdakwah Jangkau Generasi Milenial dan Gen-Z

“Karenanya, kesan pertama sangatlah penting. Sahabat kita yang nonmuslim tidak membaca Al-Qur’an dan hadits sebagai sumber ajaran Islam. Yang mereka baca adalah perilaku kita. Tentu, akan sulit meyakinkan mereka bahwa ajaran Islam penuh kedamaian jika perilaku kita sebaliknya,” ujar Fathul.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)