LANGIT7.ID - Pada awal Nabi Muhammad SAW diutus, di antara sedikit orang yang menerima Islam dan beriman adalah anak-anak muda. Para pemuda ini adalah pemuda spesial bagi Rasulullah sebab beriman sejak usia belia.
Tak kalah istimewa dengan para
sahabat senior yang berada di sekitar Rasulullah, para
sahabat muda ini begitu spesial sebab energinya untuk memperjuangkan Islam masih begitu besar. Merekalah yang melanjutkan estafet dakwah sepeninggal Rasulullah dan para sahabat senior.
Berikut para sahabat Nabi yang beriman sejak usia muda.
1. Abdullah bin AbbasAbdullah bin Abbas atau lebih dikenal sebagai Ibnu Abbas merupakan salah satu sahabat cilik Rasulullah. Ibnu Abbas dilahirkan tiga tahun sebelum hijrah. Boleh dikata, dia hidup bersama Rasulullah SAW dan belajar langsung dari beliau. Dia adalah sepupu Rasulullah.
Rasulullah pernah merengkuhnya ke dada seraya berdoa, “Ya Allah, ajarilah dia al-hikmah.” Dalam suatu riwayat disebutkan, “(Ajarilah dia) al-Kitab (Al-Qur’an).”
Baca Juga: Perjalanan Spiritual Salman Al-Farisi Mencari Kebenaran hingga Bertemu Rasulullah
Bahkan, Ibnu Abbas masih berusia 13 tahun saat Rasulullah wafat. Meski begitu, dia menjadi salah satu tokoh sahabat yang terkenal dengan keilmuan mendalam berkat doa Rasulullah.
Umar bin Khattab selalu mengundang Ibnu Abbas dalam majelis syura-nya dengan beberapa sahabat senior. Ia selalu berkata kepada Ibnu Abbas agar ia tidak perlu sungkan menyampaikan pendapat.
Beberapa sahabat Umar mempertanyakan kenapa mengajak "anak muda" dalam diskusi mereka. Umar menjawabnya dengan mengundang para sahabat, termasuk Ibnu Abbas.
Umar berkata, "Apa pendapat kalian mengenai firman Allah, 'Bila telah datang pertolongan Allah dan Penaklukan.' (surat An-Nahsr). Maka, sebagian mereka berkata, "Kita diperintahkan agar memuji Allah dan meminta ampun kepada-Nya bila kita menang (dapat menaklukkan Mekkah)."
Sebagian lagi hanya terdiam saja. Lalu, Umar pun berkata kepada Ibnu Abbas, "Apakah kamu juga mengatakan demikian?" Ia menjawab, "Tidak."
Baca Juga: Meneladani Sikap Abdullah bin Rawahah Saat Nama Nabi Muhammad Direndahkan
Lalu Umar bertanya, "Kalau begitu, apa yang akan kamu katakan?" Ia menjawab, "Itu berkenaan dengan ajal Rasulullah SAW di mana Allah memberitahukan kepadanya bila telah datang pertolongan-Nya dan penaklukan kota Mekkah, maka itulah tanda ajalmu (Rasulullah-red), karena itu sucikanlah Dia dengan memuji Rabbmu dan minta ampunlah kepada-Nya karena Dia Maha Menerima Tobat."
Umar pun berkata, "Yang aku ketahui memang seperti yang engkau ketahui itu." Secara tidak langsung Umar hendak menjawab, kendati muda, keilmuan Ibnu Abbas sangat mumpuni.
2. Ali bin Abi ThalibAli bin Abi Thalib berusia sekitar 10 tahun saat memutuskan memeluk Islam. Kendati masih belia, keputusan besar itu diambil bukan karena kedekatannya dengan Nabi Muhammad SAW, melainkan lewat proses pencarian penuh pertanyaan.
Ali sangat dekat dengan Nabi Muhammad SAW yang tak lain adalah sepupunya sendiri. Dia kerap mengikuti ke manapun Muhammad pergi dan meniru kata-kata serta tindakannya. Namun, ketika Muhammad ditunjuk sebagai utusan Allah, Ali tidak segera memeluk Islam. Dia memilih memahami agama Islam itu terlebih dahulu.
Ali lahir di Makkah sekitar tahun 600 M. Ia adalah putra Abu Thalib, paman sekaligus pendukung setia Nabi Muhammad. Ketika kelaparan melanda Makkah, Muhammad membantu keluarga pamannya itu dengan membawa dan merawat Ali.
Baca Juga: Reshuffle di Masa Umar bin Khattab, Dicopotnya Panglima Terbaik Demi Jaga Akidah Umat
Oleh karena itu, Ali dibesarkan oleh Muhammad dan Khadijah seolah-olah dia adalah anak mereka sendiri. Ali berada di tengah-tengah keluarga itu ketika Muhammad menerima wahyu pertama.
Diyakini ia menyaksikan Muhammad dan Khadijah bersujud dalam doa dan bertanya tentang apa yang telah dilihatnya. Meskipun baru berusia 10 tahun, Ali sudah berpikir keras dan mengajukan banyak pertanyaan sebelum menerima Islam.
Melansir laman About Islam, disebutkan Ali juga khawatir dengan reaksi keluarganya, terutama sang Ayah. Ketika seseorang hendak memeluk Islam, rasa khawatir semacam itu memang sering menghantui. Apakah ia akan kehilangan cinta dari keluarganya atau keluarganya bisa menerima.
Hal semacam itulah yang dirasakan Ali. Sebagaimana diketahui, Abu Thalib adalah pribadi yang menolak memeluk Islam. Beruntung, ia bisa menerima ketika Ali berkata bahwa Muhammad akan menuntunnya pada jalan kebenaran. Abu Thalib bahkan menasihati agar Ali tetap dekat dengan Muhammad.
Ali pun semakin gencar bertanya kepada Muhammad. Ia selalu berdiskusi ketika menemui suatu hal yang belum dipahami tentang agama baru tersebut. Tak lama berselang, Ali akhirnya membaca dua kalimat syahadat. Walhasil, Ali menjadi anak pertama yang masuk Islam.
3. Usamah Bin Zaid Usamah bin Zaid merupakan panglima Islam termuda sekaligus panglima terakhir yang ditunjuk langsung oleh Rasulullah. Dia mulai memimpin perang pada usia 18 tahun.
Baca Juga: Kiat Sukses Abdurahman bin Auf, Sahabat Nabi yang Sangat Kaya
Saat tersiar kabar Rasulullah wafat, Usamah terus melanjutkan perjalanan menuju medan perang Bersama pasukannya, dia bergerak cepat meninggalkan Madinah menuju perbatasan Syam. Setelah melewati beberapa daerah yang masih tetap memeluk Islam, akhirnya mereka sampai di Wadilqura. Dengan strategi perang yang matang, pasukan Usamah mampu mengalahkan musuh secara cepat.
Setelah 40 hari kemudian, mereka kembali ke Madinah membawa sejumlah harta rampasan perang serta tanpa jatuh korban satu pun. Sejak saat itu, putra Ummu Aiman tersebut disegani oleh para sahabat.
Waktu terus berjalan. Usamah pun mengembuskan nafas terakhirnya pada 53 Hijriyah atau 673 Masehi. Selama hidupnya, sudah dia dedikasikan untuk membela agama Allah.
4. Sa'ad bin UbadahSa’ad bin Ubadah bin Dulaim bin Haritsah bin Abi Hazimah bin Tharif bin al-Khazraj adalah tokoh yang terhormat di Yatsrib, sebelum berganti nama menjadi Madinah. Dia adalah pemimpin suku Khazraj yang ikut serta dalam Baiat Aqabah II beserta tujuh puluhan rombongan dari Yatsrib untuk menyatakan masuk Islam.
Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyyah menjelaskan, saat rombongan Yatsrib hendak pulang, Sa’ad bin Ubadah tertinggal rombongan. Tidak berpikir panjang, orang-orang Mekah yang telah mengincar rombongan ini menculik Sa’ad.
Baca Juga: Kehebatan Khalid bin Walid, Tak Mempan Racun Paling MematikanDia dipukuli sampai dipenuhi bercak darah pertanda babak belur. Setelah puas dipukuli Sa’ad ditinggalkan begitu saja. Bisa jadi Sa’ad bin ‘Ubadah adalah satu-satunya orang Anshor yang mengalami siksaan dari musyrik Mekah.
5. Mush'ab bin UmairMush’ab bin Umar lahir dari keluarga kaya raya. Dia menjadi salah satu anak muda Mekkah yang dimanjakan kedua orang tuanya. Hidupnya mewah dan pakaian yang dikenakan terbuat dari kain paling bagus.
Suatu hari, Mush’ab bin Umair mendengar kabar tentang Nabi Muhammad SAW. Di antara kabar yang dia dengar adalah Rasulullah biasa mengadakan pertemuan di suatu tempat yang terhindar jauh dari gangguan gerombolan Quraisy dan ancaman-ancamannya, yaitu di bukit Shafa di rumah Arqam bin Abil Arqam.
Maka pada suatu senja, didorong oleh kerinduan, dia pergi ke rumah Arqam menyertai rombongan itu. Di tempat itu Rasulullah SAW sering berkumpul dengan para sahabatnya, mengajarkan mereka ayat-ayat Alquran dan mengajak mereka beribadah kepada Allah Yang Maha Akbar.
Baca Juga: Sosok Sahabat Nabi Abu Bakar, Lakukan Kebaikan Sembunyi-Sembunyi
Baru saja Mush'ab mengambil tempat duduk, ayat-ayat Al Qur'an mulai mengalir dari kalbu Rasulullah bergema melalui kedua bibirnya dan sampai ke telinga, meresap di hati para pendengar. Di senja itu Mush'ab pun terpesona oleh untaian kalimat Rasulullah yang tepat menemui sasaran di kalbunya. Akhirnya, dia memeluk Islam.
Mush'ab punya jasa besar untuk Islam sebagai diplomat Rasulullah dalam berkomunikasi dengan kabilah dan bangsa lain di awal masa kenabian.
(jqf)