LANGIT7.ID -
Reshuffle atau penggantian jabatan oleh Kepala Negara terhadap bawahannya pernah terjadi di masa Khalifah
Umar Bin Khattab. Kala itu, Khalifah Umar me-
reshuffle Khalid Bin Walid.
Khalid bin Walid merupakan panglima perang terbaik dalam sejarah Islam. Dia jenderal di lapangan pertempuran. Sebagai komandan militer, dia menjadi pembela Islam paling terdepan. Sampai Rasulullah memberikan julukan ‘
Syaifullah’ atau Pedang Allah yang terhunus.
Dalam buku Kuliah Tauhid karya Muhammad Imaduddin Abdulrahim disebutkan, Khalid merupakan panglima perang yang belum pernah terkalahkan. Saat menghadapi Persia hingga Iraq, dia selalu ditakdirkan menang.
Hal itu membuat banyak pujian yang dialamatkan kepada Khalid. Bahkan, orang-orang membuat banyak syair dan lagu untuk memuji kepahlawanan yang masyhur itu.
Baca Juga: Kehebatan Khalid bin Walid, Tak Mempan Racun Paling Mematikan
Tetapi, saat Khalid sedang menyusun strategi untuk menggempur Byzantium atau Romawi Timur, datang surat perintah dari Khalifah
Umar bin Khattab untuk menyerahkan jabatannya kepada Abu Ubaidah bin Al Jarrah.
Khalid tidak marah, apalagi tersinggung dan melanggar perintah. Khalid yang sedang memimpin rapat tidak langsung membacakan surat perintah tersebut. Dia ingin menyelesaikan rapat strategi itu terlebih dahulu.
Setelah rapat selesai, strategi telah dirampungkan, Khalid menyerahkan jabatannya kepada Abu Ubaidah bin Al Jarrah. Dia langsung kembali ke Madinah untuk melapor kepada Khalifah Umar bahwa perintahnya telah dilaksanakan.
Setelah itu, Khalid meminta penjelasan terkait
reshuffle tersebut. Dia khawatir ada kekeliruan yang dia perbuat selama memimpin perang. Khalid memang punya kelemahan di bidang tata administrasi dan pembukuan. Namun, dia yakin tidak pernah keliru dalam perhitungan-perhitungan keuangan dari dana perjuangan itu.
Baca Juga: Tunadaksa Berjuang Bersama Rasulullah pada Perang Uhud
Namun, Umar menegaskan,
reshuffle tersebut tidak berkaitan dengan kelemahan Khalid di bidang administrasi dan pembukuan. “Itu soal yang bisa dimaafkan,” kata Umar.
"Tetapi, sebagai khalifah aku bertanggung jawab atas akidah umat. Engkau adalah Pahlawan Perkasa yang tak dapat dikalahkan di setiap medan pertempuran. Tapi, akibatnya rakyat mulai menyanyikan lagu pujian untukmu, dan tidak lagi memuji dan memuja Allah semata. Aku khawatir mereka menjadi syirik. Sebagai penanggung jawab aku harus membuktikan kepada seluruh umat, bahwa semata sebagai hamba Allah aku mampu memecat Khalid bin Walid sebagai panglima perang yang masyhur,” kata Umar menjelaskan.
Dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah disebutkan, Umar berkata, “Sesungguhnya aku tidak mencopot Khalid bin Walid karena Marah ataupun dia berkhianat, tetapi manusia telah terfitnah dan Aku ingin manusia tahu bahwa Allah-lah yang membuat kemenangan.”
Ibnu ‘Aun meriwayatkan tatkala Umar menjadi Khalifah, dia berkata, “Sungguh aku akan mencopot Khalid, sehingga manusia tahu bahwa Allah mampu menolong agama-Nya tanpa Khalid.” (Siyaru A’lam An-Nubala).
Salah satu hikmah
reshuffle tersebut adalah Umar Hendak menjaga akidah umat. Tidak ada kepentingan Pribadi dalam urusan tersebut. Dalam fatwa Syabakah Islamiyah dijelaskan:
“Sebab hal tersebut bahwa Khalid bin Walid RA tidak pernah kalah dalam peperangan apapun yang dia pimpin, baik itu di masa jahiliyah (sebelum masuk Islam) maupun di masa Islam.” (Fatawa).
Baca Juga: Rahasia Rasulullah Didik Sahabatnya Jadi Manusia Baru Bangkitkan Peradaban Islam
Khalid bin Walid menerima keputusan tersebut dengan penuh keikhlasan. Khalid mundur dari hadapan Khalifah Umar. Dia tak pulang istirahat. Dia kembali bertempur di medan perang. Tak lagi sebagai panglima perang, tapi sebagai prajurit biasa.
Orang-orang terheran-heran melihat Khalid, karena masih mau bertempur setelah di-
reshuffle oleh Khalifah
Umar bin Khattab. Khalid bin Walid lalu berseru, “Aku bertempur dan berjuang tidak karena Khalifah Umar, akan tetapi aku berjuang karena Allah semata!.”
(jqf)