LANGIT7.ID - Tanahnya tandus dan kering. Namun siapa sangka, umat Islam di jantung Jazirah Arab bisa meledak menjadi kekuatan dunia yang sangat diperhitungkan. Padahal, dalam aspek pendidikan, awalnya peradabannya tidak bersentuhan langsung dengan kekuatan-kekuatan peradaban besar kala itu.
Sebelum era Rasulullah sudah ada peradaban yang berkembang, seperti Romawi, Persia, hingga Babilonia. Peradaban itu menjadi kiblat pendidikan pada masa itu. Namun, pada masa Baginda Nabi Muhammad SAW, tiba-tiba umat Islam tampil sebagai peradaban unggul di dunia.
Masa untuk melejitkan peradaban Islam pun tak lama. Pondasi dibangun sekitar 10 tahun pada masa Rasulullah, dan melejit 100 tahun kemudian. Hal ini berbanding terbalik dengan peradaban barat saat ini. Barat memerlukan 300-500 tahun untuk bangkit dari era kegelapan ke zaman yang disebutnya sebagai pencerahan yakni
renaissance.
“Ini merupakan karya peradaban yang sangat spektakuler, karena betul-betul mendominasi setelah itu. Ini sebuah fenomena yang sangat janggal dan sulit untuk dipahami. Umat Islam mencapai kematangan dalam pemikiran yang sangat cepat, ini tidak mungkin tiba tiba saja, pasti ada alasan yang sangat kuat dan kemudian meledakkan,” kata pakar Sirah Nabawiyah, Ustadz Asep Sobari, melalui kanal youtube Sirah Community, Selasa (14/12/2021).
Baca Juga: Ketua MIUMI: Rasulullah Bangun Peradaban Islam dengan Pendidikan, Ekonomi dan Gerakan Politik
Umat Islam menjadi yang terdepan di antara semua umat yang ada. Semua umat Islam menjadi manusia unggul yang terkemuka. Semua itu dimulai dengan keberhasilan umat Islam melahirkan manusia baru.
Umat Islam berhasil mengoptimalkan talenta dan potensi manusia-manusia baru itu. Tak hanya itu, karakteristik peradaban Islam berbeda dengan peradaban apapun yang pernah ada. Umat Islam melahirkan peradaban yang seimbang.
“Peradaban Islam seimbang, antara spiritual, materi, menempatkan manusia sebagai entitas spiritual dan alam materi, ini kan yang hilang di Barat. Di mana manusia di Barat diposisikan sebagai entitas materi, bagian dari materi lain. Padahal manusia dan materi yang lain berbeda,” kata Asep.
Keseimbangan itu dimulai dari epistemologi Islam yang bersifat integral, komprehensif, dan saling terhubung satu sama lain. Hal ini yang dimiliki umat Islam dalam melakukan perubahan yang mengakar. Dari situ terbentuk manusia dan masyarakat baru.
Baca Juga: Rusaknya Ilmu karena Terpisah dari Iman
Semua itu berasal dari Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah dan dijelaskan oleh sunnah Rasulullah. Hal itu menjadi epistemologi lalu diterapkan oleh Rasulullah untuk membentuk manusia baru. Dari manusia baru ini lahirlah karya peradaban itu.
(jqf)