LANGIT7.ID, Jakarta - Abdurrahman bin Auf merupakan salah
Sahabat Nabi yang memiliki jumlah kekayaan fantastis, bahkan ketika beliau wafat, diperkirakan mencapai triliunan rupiah.
Harta kekayaannya saat wafat mencapai 3.200.000 Dinar atau lebih dari Rp 6,21 triliun jika dikonversi ke dalam bentuk uang rupiah. Dengan aset yang diriwayatkan Ibnu Katsir yakni 1.000 ekor unta, 100 ekor kuda, dan 3.000 ekor kambing.
Lantas apa yang menjadikan bisnis Abdurrahman hingga bisa meraih sukses, sekaligus mampu menjadikannya kaya raya. Berikut ulasannya.
Baca Juga: Kisah: Umar bin Khaththab Menangis Kenang Dosa Saat Masa Jahiliyah1. Pasar Seperti diketahui, ketika Abdurrahman bin Auf hijrah dari Makkah ke Madinah, dia tidak membawa apa pun selain pakaiannya.
Mentor Bisnis, Dewa Eka Prayoga menjelaskan, saat itu yang dicarinya hanya pasar. Dari situ bisa terlihat, bahwa Sahabat Nabi yang satu ini hanya berfokus pada pasar atau market.
"Jadi pada saat Anda berbisnis saat ini dan ingin mengikuti Abdurrahman maka beranjaklah dari pasarnya dulu, bukan produknya," ungkap dia dikanal YouTubenya, Dewa Eka Prayoga, dikutip Jumat (18/3/2022).
Sebab ketika sudah mengetahui pasar, kata dia, seorang pebisnis akan mengetahui apa sumber permasalahan dan kebutuhan yang dicari banyak orang.
Dari kepekaan itu, pebisnis harus mulai memberikan solusi dengan menciptakan sebuah produk atau barang.
"Maka rumusnya adalah, dengan adanya masalah akan menghadirkan solusi, dan menghasilkan produk. Jadi jangan cari market untuk produk umum, tapi carilah produk untuk market umum," katanya.
2. Wajib kontanAbdurrahman juga selalu mengedepankan transaksi secara kontan. Sehingga umat Islam saat itu tidak tergantung dengan kebiasaan utang-piutang.
"Utang itu ibarat perbudakan, kalau sudah bisa ngutang dan lunas, maka akan muncul kebiasaan utang lagi dan lunas lagi, dan seterusnya," jelasnya.
Pria yang akrab disapa Kang Dewa ini mengatakan, walaupun Islam memperkenankan utang, dan melarang riba, tapi ketergantungan utang-piutang ada baiknya dihindari.
3. Untung kecilLebih lanjut, Abdurrahman bin Auf juga tidak berfokus pada keuntungan besar. Walaupun dengan keuntungan kecil, tapi dia berfokus pada volume penjualan.
"Jadi tidak maruk. Biar pun untungnya kecil tapi kuantitasnya banyak. Abdurrahman juga tidak mau menyusahkan pembeli dengan mengambil keuntungan yang besar," ujarnya.
4. Kualitas ProdukAbdurrahman tidak membeli barang jelek. Sebab, dia menyadari produk dengan kualitas jelek cukup sulit untuk dijual.
"Jadi product market fit atau quality control menjadi poin penting dalam hal ini," ungkapnya.
5. KeberkahanIslam mengajarkan kepada umatnya untuk selalu mencari keberkahan, termasuk dalam bisnis. Artinya, bisnis yang halal dan toyib juga harus dipertimbangkan oleh umat dalam bisnis yang dijalankannya.
"Intinya bisnis yang kita jalankan mendapatkan ridho dan berkah dari Sang Pencipta. Fokusnya adalah pada ibadah, obsesinya akhirat, dan bukan sekadar keuntungan. Untung itu penting, tapi keberkahan lebih penting," jelasnya.
Kang Dewa menambahkan, poin-poin terkait strategi bisnis yang dijalankan Abdurrahman bin Auf ini tidak mesti dilakukan berurutan. Rahasia sukses bisnis dan kaya raya ala Abdurrahman bin Auf ini memiliki poin yang sama pentingnya.
"Bisnis adalah pilihan, tapi dakwah adalah kewajiban. Semoga bisa memberikan inspirasi dan ini tujuannya adalah dakwah," tambahnya.
(bal)