LANGIT7.ID, Jakarta - Zaman terus berkembang, setiap generasi memiliki gaya hidup dan pola berpikir berbeda-beda. Hal itu memunculkan tantangan tersendiri dalam pendidikan agama. Apalagi saat ini, perkembangan teknologi komunikasi mengubah banyak hal dalam kehidupan generasi muda terlebih
generasi Z.
Anak-anak yang lahir pada 1996-2010an adalah kelompok anak muda yang disebut
generasi Z. Tantangan mendidik generasi ini tentu berbeda dengan generasi yang lahir sebelum itu. Di sini, kreativitas seorang pendidik diuji. Maka, anak-anak yang saat mondok di pesantren masuk dalam kategori ini.
Pengasuh
Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Depok,
KH Yusron Shidqi mengatakan bahwa perkembangan zaman tidak bisa dihindari. Maka, hal yang perlu dilakukan adalah menyesuaikan pola pendidikan bagi
generasi z agar bisa teguh memegang agama di era disrupsi. Ini merupakan tantangan yang harus disadari setiap pendidik, baik yang berada di pesantren maupun lembaga pendidikan lain.
Baca Juga: Mental Illness dalam Perspektif Islam dan Relasinya dengan Keimanan
“Tantangan untuk santri (gen Z) di era disrupsi adalah melakukan penyesuaian terhadap cara hidup yang baru namun tetap dalam koridor agama,” kata pria yang akrab disapa Gus Yusron itu kepada
Langit7.id, Kamis (3/11/2022).
Putra KH Ahmad Hasyim Muzadi itu menegaskan, tantangan paling berat mendidik mahasiswa adalah dalam penggunaan teknologi informasi. Teknologi seperti memiliki dua sisi mata uang sehingga kepekaan diperlukan agar pola pendidikan yang diterapkan bisa tepat sasaran.
“Tantangan paling berat mendidik mahasiswa adalah smartphone. Pembatasan dan penggunaan HP memainkan peran yang cukup penting dalam mensukseskan pendidikan pesantren mahasiswa,” ujar Gus Yusron.
Baca Juga: Buku Milennial Muslim Megashift: Pandemi Mengubah Anak Muda
Menurut Gus Yusron, tantangan itu juga perlu disadari
generasi Z di era disrupsi. Ilmu agama tentu sangat penting, karena itu merupakan landasan dalam berpikir dan bertindak. Namun, selain ilmu agama, perlu ada pengembangan
skill agar bisa bertahan di tengah gempuran teknologi.
“Santri perlu berinvestasi dalam
skill yang dibutuhkan di dunia saat ini, ia perlu mengerti teknologi dan cara menggunakannya sehingga menjadi user yang baik, alih-alih menjadi korban teknologi. Investasi pada pengetahuan dan
skill, akan memberikan manfaat yang cukup besar,” ujar Gus Yusron.
Pendidikan Berorientasi pada Gen ZGus Yusron menjelaskan, mendidik santri generasi Z, harus berorientasi kepada mereka, bukan berorientasi kepada guru semata.
“Komunikasi yang baik dan sehat, tanpa intimidasi memainkan peran yang signifikan. Kita tidak bisa semena-mena melabeli generasi Z dengan label yang buruk, karena mereka tidak meminta untuk dilahirkan di generasi ini,” ujar Gus Yusron.
Baca Juga: Pesantren Al-Hikam, Pelopor Pesantren Khusus Mahasiswa di Indonesia
Pandangan buruk kepada generasi Z harus dihilangkan terlebih dahulu. Setelah itu, pendidik perlu mendudukkan atau menempatkan mereka sebagai manusia pada umumnya. Pendidik harus memahami situasi dan kondisi mereka.
“Dengan menjadi pendidik yang mengerti dan pengertian, kita bisa mendidik dengan lebih baik. Satu lagi, generasi z lebih tertarik hal-hal yang ada sentuhan teknologinya, oleh karena itu cara dan materi yang disampaikan guru perlu lebih atraktif dengan sentuhan teknologi,” kata Gus Yusron.
(jqf)