LANGIT7.ID, Jakarta - Pandemi mengubah perilaku konsumen di Indonesia.
Buku Milennial Megashit mengungkap kondisi generasi terkini beralih dan memilih produk yang halal dan thoyib.
Penulis Buku "Milennial, Muslim, Megashift", Yuswohady menyampaikan, selain sebagai negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia, Indonesia juga memiliki bonus demografi, dengan jumlah masyarakat usia produktif lebih banyak.
"Dari riset saya, dapat disimpulkan pasar muslim setelah dua tahun pandemi cukup diobrak-abrik. Perilaku mereka berubah drastis, maka kemudian lahir buku 'Milennial, Muslim, Megashift' (3M)," ungkapnya saat Online Booktalk and Launch: Milennial Muslim Megashift, Kamis (14/4/2022).
Muslim yang akrab disapa Mas Siwo ini menyampaikan, buku 3M berisi pembahasan terkait perilaku konsumen, terutama kalangan milenial muslim. Pasalnya, milenial akan mendominasi pasar sekitar 3-5 tahun dari sekarang.
Baca Juga: 7 Rekomendasi Buku untuk Tingkatkan Intelektualitas Muslim saat Ramadhan"Sekarang ini belum yang terbesar memang, tapi mungkin beberapa tahun lagi dunia ini akan dikuasai milenial," tegasnya.
Adapun dalam buku 3M ini juga membahas tiga perubahan besar yang terjadi pada kaum muslim milenial. Pertama, konsumen muslim milenial semakin spiritual.
"Artinya, seluruh hidup mereka semakin direlevansikan kepada nilai ajaran Al-Quran dan sunnah. Pandemi menjadi berkah karena berperan untuk koreksi besar-besaran terhadap muslimin," katanya.
Kedua, lebih digital. Kegiatan adaptif milenial dalam kehidupan mereka saat ini sangat bergantung pada apps, termasuk kegiatan belajar, kebutuhan transportasi, dan belanja.
Ketiga, lebih empati. Konsumen muslim milenial disebut sebagai generasi empati. Hal ini berkaitan erat dengan Ziswaf.
"Tiga pergeseran besar itu kembali diterjemahkan menjadi menjadi 5S. Seperti yang saya bilang, pandemi menjadi the great corrector," katanya.
Adapun 5S yang disebutkan itu, yakni spiritual, yang menjelaskan pandemi sebagai the great corrector.
Safety security, yang menyebabkan konsumen lebih memilih untuk cari aman, dengan mencari makanan halal dan thoyib.
"Jadi pandemi itu sebenarnya terjadi karena pengingkaran terhadap halal dan thoyib. Sedangkan security, berkaitan dengan finansial, di mana banyak masyarakat terdampak PHK, atau pun bangkrut dalam usaha, sehingga mereka lebih mengamankan uangnya daripada boros," jelasnya.
Selanjutnya, screen (go digital). Sebab, interface go digital adalah screen atau layar, baik laptop maupun smartphone.
Self expression, menjadi ciri milenial. Di antaranya aktualisasi diri dan esteem, terbukti dari meningkatnya penggunaan media sosial secara masif.
"Terakhir social, yakni milenial sebagai emphatic generation. Dari survey gopay, milenial adalah kalangan yang berdonasi paling banyak, mencapai 1,5 kali dalam sebulan, sementara gen x 1,4 kali, dan gen z 1,2 kali," jelasnya.
Implikasinya, lanjut Mas Siwo, apa yang dilakukan pelaku usaha sebelum pandemi menjadi tidak relevan lagi. Terutama jika hal itu dilakukan pada saat ini, di mana perilaku konsumen sudah berubah.
(bal)