LANGIT7.ID - , Jakarta - Tidak hanya orang dewasa, anak kecil juga tentu pernah berkata kasar, mengumpat, melontarkan kata kotor, ataupun makian. Dan ketika tanpa sadar mereka melakukannya, orang tua pasti merasa heran karena secara pribadi tak pernah melakukannya.
Ustadz Bendri Jaisyurrahman mengatakan ada dua hal yang harus dipahami oleh para orang tua untuk mengatasi hal ini. Pertama kerap perdengarkan kata-kata baik, dan kedua jangan hanya mendidik anak tetapi didik juga lingkungannya.
Menurut dia, kata-kata buruk yang sering didengar oleh anak bisa jadi hal tersebut datangnya dari Anda sebagai orang tua. Makanya, salah satu cara agar anak tidak berkata buruk adalah sering mendengarkan kata-kata baik.
Baca juga: Perilaku Netizen Indonesia Gambar Literasi Digital yang RendahAllah SWT menyebutkan dalam Al-Qur'an, “Sesungguhnya kebaikan akan mengusir keburukan.” (QS. Hud; 114).
Di samping itu, aktivitas mendongeng, membaca, atau mengajarkan mereka untuk mencintai buku harus menjadi sering dilakukan atau menjadi rutinitas. Karena aktivitas membaca akan mengusi kata-kata buruk dengan sendirinya.
"Problematika saat ini adalah orang tua jarang bicara atau membacakan kata-kata baik kepada anak. Sehingga anak akan lebih banyak menyerap kepada lingkungan luarnya," ujar Ustadz Bendri dalam acara bertajuk "Tips Didik Anak dengan Al Qur'an sejak Dini," Kamis (31/3/2022).
Selanjutnya, ucap Ustadz Bendri, salah satu pekerjaan rumah para orang tua dalam memotivasi anak adalah dengan memahami bahwa lingkungan yang rusak merupakan peringatan dari Allah SWT agar Anda tidak hanya mendidik anak saja tetapi juga anak tetangga Anda.
Baca juga: Hubungan Suami Istri di Masa Lalu Pengaruhi Pola Asuh pada Anak"Karena anak tetangga itu yang pastinya berteman dengan anak kita. Jika mereka baik, maka anak kita juga akan seperti itu. Tetapi jika mereka buruk maka anak kita juga kemungkinan besar melakukan hal yang sama," ungkapnya.
Kondisi ini sering menjadi problem orang tua, ketika anak tetangga melakukan hal buruk kebanyakan dari mereka hanya berpikir yang terpenting bukan anak mereka.
"Jadi masalah hari ini, orang tua melalaikan itu. Mereka selalu berpikir yang penting bukan anak saya. Sehingga kita tidak berpikir bahwa dakwah itu meluas kepada orang sekitar," ucapnya.
Ustadz Bendri lalu mengakui dirinya pernah berada di posisi tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu ia mendapatkan teguran dari Allah SWT dengan pengaruh buruk yang didapat dari buah hatinya.
"Saya pernah berpikir yang penting anak saya. Tetapi saya baru sadar ketika anak mendapatkan pengaruh buruk. Istilahnya saya ditegur oleh Allah SWT dengan mengatakan bahwa, engkau jangan menjadi ayah buat anakmu sendiri, jadilah ayah-ayah lingkungan," kata Ustadz Bendri.
Baca juga: Pola Asuh Zaman Dulu vs Zaman Now, Apa Bedanya?Banyak orang-orang lupa bahwa Nabi Muhammad SAW itu menjadi ayah bagi kaum muslimin di zamannya. Seperti menyapa anak kecil yang sedang sedih, kemudian ia juga menyapa anak perempuan yang sedih karena tidak memiliki ayah dan lainnya.
"Nah, ia menjadi ayah bagi kaum muslimin. Kita melupakan itu, kita tidak menjadi ayah dan tidak juga menjadi ibu bagi anak tetangga. Jika kita ingin menjadi ibu dan ayah bagi anak tetangga, maka bikinkanlah program seperti bikin perpustakaan dan lainnya," tuturnya.
Menurut dia, rusaknya bahasa anak itu disebabkan karena miskinnya literasi, jarang baca buku. Mereka lebih sering nonton TV, YouTube dan lainnya.
"Makanya, solusi pertama bikinlah apa yang menjadi kebutuhan anak yakni buku bacaan. Itulah yang kita sebaiknya hadiahkan kepada anak-anak. Kemudian, bacakan buku semampu kita, dan itu bisa memberikan pengaruh," pungkas Ustadz Bendri.
(est)