LANGIT7.ID, Jakarta - Australia menjadi salah satu tujuan belajar yang banyak diminati pelajar Indonesia. Benua yang berjuluk Negeri Kanguru itu memiliki banyak perguruan tinggi terkemuka dengan kualitas pendidikan yang tak diragukan lagi. Di sana terdapat Australian National University, University of Melbourne, University of New South Wales, University of Queensland, dan Monash University.
Lalu, bagaimana gambaran kuliah di Australia? Kyra Kiara, Mahasiswi Monash University, bercerita suka-duka menjalani keseharian sebagai mahasiswi asal Indonesia di Australia. Dia mengambil jurusan Bachelor of Science (S1) jurusan Zoology di Monash University.
Ada banyak hal yang perlu di persiapkan jika hendak kuliah di Australia. Seperti Kyra, saat daftar dibantu IDP Education, semua berkas akan diurus oleh IDP itu. Namun, yang paling penting adalah tes International English Language Testing System (IELTS).
Baca juga: Sering Traveling, Ternyata Luna Maya Belum Pernah ke Sini“Untuk kampusku sendiri, minimal harus 6.5 overall, dan masing masing kriteria
enggak ada yang boleh di bawah 6.0,” tulis Kyra di akun
Twitter-nya, Rabu (6/4/2022).
Biaya HidupDi Australia, biaya sekali makan di restoran bisa menghabiskan $15-$30 (Rp150-Rp300 ribu) untuk satu hidangan. Jika ingin berhemat bisa masak sendiri dengan menyediakan $30 untuk berbelanja bahan makanan.
“Tapi
balik lagi ke masing masing. Aku
kan orangnya pelit
banget. Menurut
temen-temen aku, $30 itu masih kurang. Jadi, harus
tau kalian lebih ke tipe yang mana. Aku uangnya juga pas-pasan, jadi sering nggak main dan aku juga harus
nyari kerja
part-time,” kata Kyra.
Biaya yang mahal adalah harga sewa kos atau apartemen. Sewa apartemen di kota sekitar $350-500 Per pekan (Rp3,5 juta lebih). Kyra memberikan tips, jika ingin mencari tempat tinggal, usahakan kos yang sudah termasuk semua yakni biaya air, listrik, dan ada heater.
“Biar
enggak pusing
kalo tiba-tiba bayaran kosan jadi mahal karena udah masuk
fall atau
winter,” tutur Kyra.
Tapi tenang saja, Anda bisa kerja paruh waktu memanfaatkan waktu kosong. Kyra menyebut, setiap mahasiswa bisa bekerja 20 jam per pekan. Di atas itu tidak boleh, karena menyangkut visa yang masuk dalam kategori visa pelajar, bukan working visa. Namun, saat ini karena Covid-19, pelajar boleh bekerja 40 jam per pekan.
“Sekarang ini, jujur bingung tapi aku mulai dari minusnya
aja. Minusnya apa-apa mahal, makanannya
enggak ada yang seenak Indonesia dan toko-toko di sini
enggak ada yang 24 jam,” tuturnya.
Suka Duka KuliahSaat kuliah juga tergolong berat. Wajar, karena standarnya adalah perguruan tinggi terbaik. Setiap mahasiswa wajib mengambil 24 SKS dan dikebut dalam 1 semester. Waktunya cuma 3 bulan. Soal nilai juga sangat ketat. Semua memiliki standar tinggi.
“
Ngasih nilainya juga lumayan
strict.
They take academic misconduct very seriously. Things like plagiarism, cheating, hal hal
kayak gitu kalo ketauan bisa langsung
dikeluarin dari kampus. Jadi sebelum kejadian
mending kita belajar dulu gimana cara
ngecite yang
proper,
gimana caranya biar
nggak self-plagiarism dll,” kata Kyra.
Akan tetapi, bukan berarti tidak ada kelebihannya. Kyra menyebut ada banyak kelebihan kuliah di Australia. Guru-guru di sana sangat baik dan menempatkan diri seperti sahabat. Saking akrabnya, mahasiswa tidak memanggil guru dengan sebut “Bapak/Ibu” tapi langsung memanggil nama saja.
Orang Australia juga sangat menganggap serius masalah kesehatan mental. Jadi, jika ada masalah pasti dibantu dan ditanggapi. Setiap kampus menyediakan konsultasi gratis. Jika ada tugas yang tidak dikerjakan karena masalah mental, itu tidak dipermasalahkan oleh pihak kampus.
Orang-orang di Australia juga beragam. Tentu akan memberikan pengalaman baru jika bisa berteman dari berbagai latar belakang negara. Kita bisa belajar budaya dan mendengar cerita di negara mereka.
Baca juga: Masyarakat Indonesia Lebih Suka Dompet Digital ketimbang KartuDi sisi lain, saat belajar di kelas sangat menyenangkan. Apapun opini yang disampaikan pasti dihargai. Jika salah pun tidak ada kata-kata ‘Kamu tidak perhatikan dari tadi?’ Atau ‘
kan saya sudah jelaskan’.
“Selalu dipuji juga walaupun kita
nggak bisa bisa
banget atau masih kurang oke, jadi
tuh kita
nggak ngerasa pesimis! Rasanya belajar
tuh dikelilingin sama guru guru yang suportif
banget tapi ini aku di jurusan
science ya, banyak yang bilang guru
science emang baik baik,” kata Kyra.
(jqf)