LANGIT7.ID-, Australia -
Larangan penggunaan media sosial bagi anak-anak usia di bawah 16 tahun telah diberlakukan di
Australia namun tidak untuk
online game atau gim daring. Seorang psikiater di Australia menilai, ini aneh dan tidak masuk akal hal sebab keduanya terkait dan berisiko buruk terhadap anak.
Menurut Daniela Vecchio, psikiater yang mendirikan klinik gangguan bermain
game online, mengatakan bahwa meskipun bermain
game itu sendiri tidak buruk, tapi risikonya dapat menjadi masalah bahkan kecanduan.
"Platform game dan media sosial menimbulkan risiko serupa bagi anak-anak: waktu yang dihabiskan secara daring berlebihan, dan potensi paparan terhadap predator, konten berbahaya, atau perundungan," ungkap Vecchio melansir BBC, Sabtu (13/12/2025).
Oleh karena itu, ia bertanya-tanya mengapa platform
game belum termasuk dalam larangan media sosial "pertama di dunia" Australia untuk anak di bawah 16 tahun.
Larangan yang mulai berlaku pada Rabu pekan ini bertujuan untuk mencegah remaja memiliki akun di 10 platform media sosial termasuk Instagram, Snapchat, dan X. Anak-anak masih dapat mengakses platform seperti YouTube dan TikTok, tetapi tanpa akun.
Baca juga: Meta Mulai Menghapus Akun Medsos Anak-anak Australia, Satu Minggu Sebelum Aturan BerlakuBagi Vecchio, pengecualian platform game terasa aneh. "Ini tidak masuk akal. Game dan media sosial sangat saling terkait, sangat sulit untuk dipisahkan," katanya.
"Individu yang bermain game dalam waktu yang berlebihan juga menghabiskan waktu yang berlebihan di platform media sosial tempat mereka dapat melihat pemain game lain, atau dapat melakukan siaran langsung bermain game. Jadi ini adalah cara untuk terhubung," tegasnya.
Klinik yang didirikan Vecchio merupakan satu-satunya lembaga yang dikelola pemerintah di Australia yang membantu pasien melepaskan diri dari kebiasaan bermain game online yang berlebihan. Saat ini pasien yang ada mencapai 300 orang.
Salah satu pasiennya bernama Sadmir Perviz (15). Meski harus menempuh perjalanan yang cukup jauh dari rumahnya ke klinik tersebut namun Sadmir mengaku hal itu sepadan dengan ia duduk bermain game online bersama orang-orang di dunia maya yang mungkin tidak dikenalnya, tetapi memiliki banyak kesamaan dengannya yaitu bermain game online.
Di klinik tersebut Sadmir dan teman-teman bermain board games. Ruangan tempat mereka bertemu adalah ruang sederhana di rumah sakit yang tampak biasa saja, tetapi di sudut ruangan, terdapat tumpukan permainan papan di atas kursi. Jenga, Uno, dan Sushi Go juga merupakan pilihan populer di kelompok informal ini yang dihadiri oleh pasien dan dokter.
Baca juga: Kisruh Miss Universe 2025: Kontestan Walkout, Protes, Hingga Viral Tagar Dukungan di MedsosIni merupakan perubahan yang cukup signifikan bagi remaja berusia 15 tahun tersebut, yang hingga beberapa bulan lalu lebih suka bermain game online dengan teman-temannya selama 10 jam sehari.
"Rasanya benar-benar berbeda," kata Sadmir. "Anda bisa melempar dadu alih-alih mengklik tombol. Anda bisa berinteraksi dengan orang lain, jadi Anda benar-benar tahu siapa yang ada di sana daripada hanya melakukan panggilan dengan orang-orang acak."
(lsi)