LANGIT7.ID, Jakarta - Momen
puasa Ramadhan membuat seseorang lebih
boros. Padahal uang jatah makan sampai berbagai kebutuhan konsumtif bisa disimpan karena sedang shaum.
Namun kondisi tersebut malah berbalik. Saat momen puasa, seseorang mengaku lebih banyak pengeluaran. Lantas untuk ke mana sebenarnya alokasi uang tersebut?
Ekonom NU, Jaenal Efendi menjelaskan, pengeluaran yang lebih besar saat Ramadhan, karena semakin banyak orang termotivasi untuk melakukan kebaikan. Di antaranya dengan ikut program berbagi takjil, menambah nilai sedekah, dan lainnya.
Baca Juga: Harga Barang Naik, Begini Cara Atur Keuangan agar Tidak Boros"Ini berhubungan dengan hukum maslahat yang memunculkan kebahagiaan bagi pelakunya. Mereka yakin tidak ada penurunan berkah di Ramadhan ini, hingga termotivasi untuk terus ber-fastabiqul khairat," kata dia dalam keterangannya, dikutip Kamis (7/4/2022).
Masyarakat, khususnya umat Islam, menjadikan Ramadhan sebagai momentum paling positif dalam mendorong aktivitas dan pertumbuhan ekonomi.
"Berapa pun meningkatnya pengeluaran di bulan Ramadhan, semata-mata dilakukan untuk mencari keberkahan dari puasa itu sendiri," ujarnya.
Menurut dia, dalam ekonomi mikro syariah, semakin tinggi kegiatan yang dilakukan akan semakin tinggi pula tingkat maslahatnya.
Kendati demikian, Jaenal juga mengingatkan masyarakat untuk tetap berhemat saat Ramadhan. Adapun berhemat dapat dilakukan melalui beberapa cara.
"Pertama, menerapkan sikap sederhana karena Ramadhan menjunjung tinggi nilai-nilai dasar kemanusiaan dan kesederhanaan," katanya.
Kedua, lanjut dia, mempunyai rencana anggaran. Ketiga, selalu praktikkan rumus berhemat, menghindari membeli barang yang tidak dibutuhkan dan bersifat konsumtif.
(bal)