LANGIT7.ID, Jakarta - Puasa dikerjakan dengan cara menahan lapar, haus, dan segala sesuatu yang membatalkan puasa mulai terbit fajar hingga matahari terbenam. Namun, bagaimana cara berpuasa di negara-negara yang mataharinya tidak terbenam?
Ramadhan bisa saja jatuh bertepatan dengan fenomena itu, karena bulan puasa dipatok berdasarkan perhitungan kalender lunar. Fenomena tersebut dikenal dengan nama
midnight sun atau matahari tengah malam.
Bumi berbentuk bulat dan memiliki kemiringan aksis 23 derajat pada porosnya. Ini yang membuat sebagian wilayah di Bumi tidak memiliki malam. Dua wilayah kutub Bumi, yakni Kutub Utara dan Kutub Selatan misalnya.
Baca juga: Melatih Kesabaran Berpuasa 16-20 Jam di SwediaDi sana, matahari hanya terbit dan terbenam sekali dalam setahun. Kutub Utara akan mengalami matahari terbit pada 22 Maret dan matahari tenggelam pada 21 September setiap tahun. Sebaiknya, Kutub Selatan akan mengalami matahari terbit pada 21 September dan matahari tenggelam 22 Maret.
Setidaknya, ada 5 negara yang mengalami fenomena itu, di antaranya Norwegia, Islandia, Swedia, Kanada, dan Alaska. Pada 2013 lalu, umat Islam di daerah itu berpuasa tanpa malam, karena Ramadhan kala itu jatuh pada akhir Mei sampai akhir Juli.
Ambil contoh di daerah Troms, sebuah kota yang terletak di jantung wilayah paling utara Norwegia, sekitar 350 km (215 mil) utara Lingkaran Arktik. Umat Islam di daerah tersebut pertama kali puasa di tengah fenomena midnight. Sebab, tahun-tahun sebelumnya belum banyak populasi muslim di daerah tersebut. Sehingga, masalah itu tidak terlalu dibicarakan.
Pada 1986, terakhir kali Ramadhan saat
midnight sun, Troms nyaris tidak memiliki populasi muslim. Pendirian pusat pengungsi pada tahun tersebut yang mendorong rombongan umat Islam datang ke daerah tersebut. Umat Islam di sana lebih banyak migran, namun ada pula mualaf dari daerah setempat.
Fatwa Ulama Terkait Ramadhan Midnight Sun
Hassan Ahmed, seorang warga muslim yang bekerja di Pusat Islam Norwegia Utara, menjelaskan, ulama telah mengeluarkan fatwa terkait fenomena itu. Sebab, hukum fikih selalu relevan dengan kondisi cuaca dan daerah tertentu.
"Matahari tidak terbenam. Selama 24 jam, dia berada di tengah langit," kata Hassan, dikutip
the atlantic, Rabu (13/4/2022).
Baca juga: Ramadhan di Norwegia: Durasi Puasa Lebih Lama dan Tantangan dalam Mendidik AnakKondisi tersebut membuat umat Islam di sana tidak memungkinkan untuk puasa dari terbitnya fajar sampai matahari terbenam. Definisi itu tidak berlaku, karena fenomena terbit dan terbenam matahari tidak ada."Kami memiliki fatwa atau keputusan ulama, kita bisa menyesuaikan puasa dengan negara Islam terdekat, atau kita bisa berpuasa mengikuti waktu Mekkah," tutur Hassan.
Hal tersebut diperkuat oleh Sandra Maram Moe, manajer pusat komunikasi dan masjid Troms. Dia menyebut jadwal puasa bisa mengikuti negara-negara Islam terdekat atau waktu Mekkah.
"Karena kami memiliki midnight sun, kami telah memilih untuk menggunakan jadwal Mekah," kata Moe.
(jqf)