LANGIT7.ID, Jakarta - Mantan Sekretaris Kabinet Era Presiden SBY sekaligus Mantan Ketua Dewan Mahasiswa (Dema) Universitas Indonesia, Dipo Alam, menilai gerakan mahasiswa saat ini, seperti Aksi 11 April, merupakan gerakan yang murni dan jujur. Mereka menyuarakan aspirasi masyarakat demi perbaikan Indonesia.
“Gerakan mahasiswa saat ini yang mempunyai modal lebih
genuine, jujur dan jernih, patut didoakan oleh semua warga masyarakat yang peduli terhadap perbaikan Indonesia ke depan, agar berlangsung dengan selamat dan tanpa disertai penangkapan-penangkapan seperti yang dialami oleh generasi 74, 77, dan 78,” kata Dipo Alam dalam Diskusi LP3ES bertajuk
Gerakan Mahasiswa dan Masa Depan Demokrasi, Rabu (13/4/2022).
Baca juga: SETARA: Demo Mahasiswa Gambarkan Keengganan Pemerintah Pahami PersoalanNamun, Dipo mengingatkan, mahasiswa juga patut waspada terhadap setiap gerakan yang dilakukan. Sejak zaman dulu, selalu ada pihak-pihak yang mendompleng dan mengambil keuntungan dari aksi tersebut.
Dia menyebut, mahasiswa generasi terdahulu selalu melakukan dialog dengan berbagai kelompok strategis. Itu agar tujuan aksi bisa tercapai. Dia mencontohkan gerakan 98, ketika mahasiswa melakukan pendekatan kepada Ali Sadikin untuk menjadi presiden menggantikan posisi Soeharto.
“Jika saat ini gerakan mahasiswa menentang wacana perpanjangan jabatan presiden dan penundaan pemilu 2024, patut diberikan
support,” ucap Dipo.
Menurut dia, fungsi
agent of change dan gerakan moral harus terus dikedepankan, terutama untuk mencegah semakin meningkatnya iklim ketakutan berpendapat di tengah masyarakat.
Survei Indikator mencatat sekitar 65% warga masyarakat sekarang takut berpendapat. Itu menunjukkan kualitas demokrasi yang semakin memudar di Indonesia.
Dipo menyebut mahasiswa merupakan figur terdidik yang tidak takut berpendapat. Maka itu, gerakan mahasiswa saat ini harus fokus pada perjuangan meningkatkan kualitas demokrasi dan kontrol terhadap kekuasaan. Itulah pentingnya trias politica pada mekanisme demokrasi.
Dia lalu mengingatkan, gerakan mahasiswa yang
genuine harus berhati-hati terhadap para pendompleng, yang akan mengkhianati gerakan karena tergiur materi dan jabatan.
Baca juga: BEM SI Komitmen Kawal Tuntutan Aksi Sampai Tuntas“KKN sesungguhnya tidak hanya seputar Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, karena yang terjadi saat ini lebih parah yakni kronisme oligarki yang tidak ada habisnya dan harus diberantas,” ucap Dipo.
Maka itu, dia meminta mahasiswa harus saling menjaga kepercayaan dan membangun komunikasi satu dengan yang lain, dan tidak mengorbankan kawan seperjuangan.
“Harus dihindari (kondisi) termakan rayuan fasilitas dan jabatan, serta sifat khianat yang tengah diperankan oleh sementara pejabat yang berlagak seolah dibekingi oleh negara besar,” tutur Dipo.
(jqf)