LANGIT7.ID, Jakarta - Ramadhan sejatinya menjadi momen bahagia bagi setiap muslim. Namun hal tersebut tak sepenuhnya dirasakan oleh Islam yang melaksanakan ibadah puasa di Ukraina.
Rusia dan Ukraina sampai hari ini masih bersitegang. Rentetan serangan dari kedua belah pihak masih terjadi. Nayara Mamutova, muslimah Ukraina bercerita, Ramadhan 2022 tak seindah tahun-tahun sebelumnya.
“Ramadhan tahun ini penuh dengan rasa sakit,” kata Nayara, dikutip
BBC, Sabtu (16/4/2022). Dia mengaku diliputi kecemasan tiap kali mendengar sirene berbunyi, pemandangan sekolah yang ditinggalkan, rumah sakit penuh, dan rumah hancur.
Baca juga: Terkesan Suara Adzan Selama Ramadhan, Wanita Ukraina ini Masuk IslamUmat Islam di Ukraina minoritas. Jumlah keseluruhannya tidak lebih dari satu persen. Kendati begitu, umat Islam di negara bekas Uni Soviet itu selalu menantikan Ramadhan tiap tahun. Ada kebahagiaan tersendiri saat buka puasa bersama dengan komunitas muslim.
Di dua tahun terakhir, umat Islam di Ukraina melaksanakan ibadah puasa di tengah pandemi Corona. Segala aktivitas dibatasi. Hampir tidak ada kegiatan buka bersama. Itu menjadikan Ramadhan 2022 sangat dinantikan.
Namun, lagi-lagi Ramadhan tak seindah bayangan, ketika Rusia dan Ukraina saling Serang. Selama 8 tahun terakhir, Nayara telah tinggal di tenggara kota Zaporizhia.
Perang Rusia-Ukraina meletus 3 pekan setelah Nayara melahirkan anak keempatnya. Dia beserta keluarga sudah punya rencana mendekorasi rumah untuk menyambut Ramadhan. Namun, semua pupus dihantam perang.
“Kami sangat terkejut, rudal jatuh di bandara, tangki minyak terbakar,” kata Nayara.
Kondisi itu memaksa keluarga Nayara pindah ke Chernivtsi di Ukraina Barat untuk perrlindungan dari suasana perang. Dia tak ingin perang menggangu kondisi psikolos keempat anaknya.
“Anak-anak saya terpisah dari teman-teman mereka. Mereka kehilangan rumah. Kami tidak aman bahkan di kota ini,” kata Nayara.
Awal kali sampai di Chernivtsi, Nayara sempat mengungsi di sebuah masjid. Lalu pada akhirnya bisa menyewa sebuah rumah di kota tersebut. Kendati begitu, kenangan lama soal Ramadhan tahun-tahun sebelumnya selalu teringat.
“Dulu seluruh keluarga berpuasa bersama, shalat bersama, dan sahur bersama. Sekarang keluarga kami terpisah dan mengungsi. Beberapa telah meninggalkan Ukraina. Ini bukan suasana yang bahagia.
Suami Nayara kini bertindak sebagai imam di sebuah rumah, yang disulap menjadi masjid. Itu membuat sang suami kerap menginap di masjid untuk menghidupkan malam-malam Ramadhan.
Baca juga: Gandeng Klub-Klub Eropa, Dynamo Kyiv Gelar Pertandingan untuk Perdamaian“Kami bertemu dengan anggota komunitas muslim lainnya untuk sahur. Kami saling membantu. Kami jgua mengimbau penduduk muslim yang kaya untuk menyumbangkan makanan kepada para pengungsi,” ucapnya.
Setiap hari, Nayara bersama muslimah lain menyiapkan sahur dan buka puasa untuk para pengungsi yang berlindung di masjid. Namun masalah baru datang. Mereka kekurangan stok daging halal. Hanya ada beberapa jenis ayam halal.
“Kami mencoba menyediakan makanan halal, tapi sekarang kami menghadapi masalah kekurangan daging halal. Muslim yang tinggal di tempat terpencil tidak bisa mendapatkan makanan halal beku,” katanya.
(jqf)