LANGIT7.ID, Jakarta - Sebanyak delapan santri yang merupakan tunanetra dan ODGJ di
Pondok Pesantren Al-Anshor. Mereka berkreasi membuat anyaman dengan kain bekas menjadi keset.
Ponpes Al-Anshor berada di Desa Pasir Mukti, Kecamatan Citeureup, Bogor menjadi pusat pelatihan dan pengembangan diri para tunanetra dan masyarakat yatim dan dhuafa.
Salah satu santri
tunanetra, Boni Iskandar mengatakan, kegiatan ini sudah dilakoninya sejak dua bulan terakhir. Sebelumnya, dia hanya di rumah, membantu keluarga membuat kandang ayam dari bambu.
Baca Juga: Produk UMKM Pesantren Thariqul Jannah Bekasi Terlaris di MandalikaNamun kondisi fisik sebagai tunanetra membuatnya dipandang sebelah mata, baik oleh keluarga juga lingkungan di sekitarnya.
"Dengan tinggal di pesantren saya bisa belajar agama, pengetahuan umum, juga pelatihan. Semoga apa yang saya dapat di sini dapat menjadi bekal untuk saya menjalani hidup agar lebih mandiri dan tidak disepelekan lagi oleh masyarakat," kata Boni melansir laman ACTNews, Senin (18/4/2022).
Pelatih penganyam keset santri tunanetra Usep Suhana mengatakan, pemberian pelatihan kepada santri tunanetra adalah untuk mengembangkan bakat para santri juga motivasi agar mereka bermanfaat khususnya bagi pribadi juga orang lain.
"Membantu para santri tunanetra agar memiliki peluang memenuhi ekonominya sehingga mereka tidak lagi dianggap sebagai 'sampah masyarakat' oleh masyarakat," ujar Usep di sela-sela kegiatannya saat memberikan arahan kepada para santri.
Pengasuh dan Pendiri Pesantren Tunanetra, Yatim dan Dhuafa Cahaya Al-Anshor Ustaz Dedi Supriadi menjelaskan, pesantren didirikan tahun 2004. Berawal dari keprihatinan melihat anak-anak yatim dan dhuafa di sekitar rumahnya tidak mendapat akses pendidikan.
"Awalnya (pesantren) hanya menampung anak-anak yatim dan dhuafa, belajarnya di saung dekat kuburan. Seiring perkembangan dan pembangunan pesantren, kami prihatin melihat orang-orang dengan kebutuhan khusus karena ‘seperti dikucilkan’ hingga akhirnya tergerak menampung mereka," kata Ustaz Dedi.
(bal)