LANGIT7.ID - , Jakarta - Shalat merupakan ibadah wajib bagi umat Islam, di mana saat melakukannya diharuskan untuk menutup aurat. Bagi perempuan batasan aurat mulai dari ujung kepala hingga kaki.
Sedangkan bagi laki-laki batas auratnya dimulai dari pusar sampai lutut. Karena itu, saat menjalankan shalat, laki-laki banyak mengenakan celana panjang atau sarung untuk menutupinya.
Berbicara tentang sarung, Founder Hikmah Rahmani, Ustadz Abdurrahman Al Habsyi menjelaskan asal mula penggunaannya dan identik dengan masyarakat Indonesia.
Baca juga: Unik dan Laris, Sarung Motif Luar Angkasa ala Komika Tretan Muslim"Sarung itu sebenarnya tradisi dari India. Jadi ulama-ulama dari Yaman itu sebelum mereka masuk ke Indonesia, dalam riwayat sejarah itu mereka singgah di Parsi," kata Ustadz Rahman kepada Langit7, Senin (18/4/2022).
Nah, tambahnya, di sana itu banyak sarung yang pemakaiannya menjadi tradisi mereka. Alhasil, dengan masuknya mereka ke Indonesia tradisi tersebut pun terbawa.
"Akhirnya dibawalah ke Indonesia dan kini juga menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia," ucapnya.
Penggunaan sarung, lanjut Ustadz Rahman, cerita dan penggunaannya sama dengan baju gamis yang dipakai masyarakat Timur Tengah. Dan itu merupakan bagian dari tradisi.
"Itu bagian dari tradisi dan tidak ada yang salah. Hukumnya mubah,"
Kenapa orang nyaman menggunakan sarung? Karena biasanya celana yang dikenakan sedikit menyulitkannya ketika duduk dan juga saat wudhu. Sehingga mereka menyiapkan sarung di dalam tas yang bisa dibawa kemana-mana. Sehingga saat shalat, sarung bisa digunakan.
"Hal ini semata-mata untuk menjaga ranah kesucian ketika menghadap Allah SWT," ungkapnya.
Menurut Ustadz Rahman, idealnya laki-laki saat menghadap Allah SWT itu menggunakan pakaian yang rapih, bersih, dan suci dari najis.
Di samping itu, mereka juga wajib mengikuti batasan-batasan yang sudah ditentukan. Seperti untuk laki-laki celana yang dikenakan harusnya melewati dengkul dan baju yang digunakan pun harus rapih dan bersih.
Baca juga: Asal Sarung yang Kini Jadi Budaya Masyarakat saat Ibadah"Meskipun begitu, sebenarnya tidak ada standar ideal tetapi jika berbicara tentang adab, sebaiknya laki-laki ketika shalat mengunakan pakai yang pantas," ucapnya.
"Pergi ke acara-acara resmi saja ia bisa rapih, berarti untuk bertemu Allah SWT harus bisa lebih rapih lagi lah," pungkas Ustadz Rahman.
(est)