LANGIT7.ID, Jakarta - Asal
sarung sebenarnya dari Yaman. Masyarakat di negara tersebut menyebutnya futah, dipakai untuk berbagai aktivitas ibadah yang kini menular ke Indonesia.
Dalam catatan sejarah, sarung pertama kali masuk ke Indonesia pada abad ke 14, dibawa oleh para saudagar Arab dan Gujarat. Seiring perkembangan zaman, kain tersebut memiliki banyak motif yang menarik dan semakin elok dipasangkan dengan pakaian Muslim.
Istilah sarung sendiri diambil dari Bahasa Melayu, yang berarti penutup. Kata ini diadopsi oleh Bahasa Inggris yang kemudian menjadi terminologi dunia untuk menunjukkan identitas busana yang sama.
Baca Juga: Tradisi Unik Arak-Arakan Kubah Masjid, Budaya Ummat Islam di MalukuPengkhususan penggunaan sarung hanya untuk aktivitas ibadah nampaknya hanya terjadi di Indonesia. Di berbagai negara lain sarung hanyalah busana sehari-hari. Sarung dikenal dengan nama wizaar di Oman dengan desasin puith polos.
Masyarakat Arab Saudi mengenalnya dengan nama izaar dengan desain yang biasanya kotak-kotak. Di dunia Arab, sarung bukanlah pakaian yang diidentikkan sebagai busana religi. Bahkan di Mesir penggunaan sarung untuk beribadah tidak populer.
Kini, selain untuk shalat, Muslim di Indonesia juga biasa menggunakan sarung dalam beraktivitas dengan beragam motif yang semakin modis. Penggunaan sarung dalam kehidupan sehari-hari paling lekat dari perilaku kaum santri.
Mengutip Total Urban Survival, penggunaan sarung juga dapat mencerminkan kelas sosial, suku, upacara, keagamaan dan sebagainya. Jenis sarung khusus seperti "songket" digunakan untuk acara-acara yang sangat formal.
Songket seorang Sultan dan pekerja kantor akan sangat berbeda dalam hal kualitas, tekstur, dan tentu saja, harga. Songket adalah salah satu metode tenun tradisional "Orang Melayu", orang Melayu, dan sering disulam dengan benang emas dan perak.
Songket terkenal di Malaysia, Brunei, dan Indonesia, terutama di Palembang dan Padang, daerah yang memiliki komunitas Melayu besar yang berasal dari Kekaisaran Melayu Besar Sriwijaya.
(bal)