Ketika seseorang menginformasikan hal yang tidak sama dengan realita, akan membentuk rantai informasi yang tak berujung. Terlebih jika informasi itu disampaikan ke media sosial, sebuah platform yang tidak mengenal ruang, waktu dan disaksikan segala usia.
Hal itu disampaikan oleh Pengasuh Pesantren Al-Mahrusiyah Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, KH Reza Ahmad Zahid (Gus Reza). Ia memaparkan bahaya berburuk sangka, menyebar ghibah, dan fitnah maupun hoaks di media sosial. Bahaya perbuatan tercela itu tidak akan selesai setelah seseorang menyampaikan kata-kata tercela itu, tapi akan berlanjut dan terus-menerus seperti debu yang beterbangan.
Gus Reza menceritakan sebuah kisah tentang seorang ulama yang difitnah. Ulama itu difitnah melanggar syariat agama. Berita bohong itu kemudian menyebar ke khalayak ramai. Pada suatu hari kebenaran terbuka, sang ulama hanya menjadi korban fitnah.
Orang yang memfitnah kemudian mendatangi sang ulama untuk meminta maaf. Ulama itu memaafkan. Namun fitnah itu sudah terlanjur menyebar.
“Aku memaafkan, tapi bagaimana dengan apa yang terjadi, berita tersebut diterima oleh khalayak dan terus menerus bertaburan seperti halnya debu, dan itu tidak akan bisa kamu hentikan. Apakah kamu bisa menghentikan tebaran debu? Tentu tidak bisa,” ucap Gus Reza mengutip perkataan ulama tersebut.
Gus Reza lalu membacakan ayat dalam surah Al-Baqarah: 191. Ayat tersebut menegaskan tentang bahaya fitnah yang lebih kejam dari pembunuhan.
“Maka dari itu,
al-fitnatu asyaddu minal qatl, fitnah itu lebih bahaya dibanding pembunuhan. Orang dibunuh, selesai ketika selesai pembunuhan. Tapi fitnah akan selalu terus bertebaran,”kata Gus Reza, dikutip dari NU Online.
Menurutnya, saat ini
track record dan jejak digital tidak bisa dihapus. Selalu tersimpan dan akan menjadi konsumsi publik setiap saat. Bahkan berita fitnah yang tersimpan dalam media sosial bisa dilihat oleh generasi berikutnya. Maka itu, dia berpesan agar bijaksana dalam bermedia sosial.
Gus Reza menyebutkan ada tiga tahap yang bisa disingkat 3T dalam menyikapi penyebaran berita hoaks bahkan fitnah di media sosial. Pertama
tabayyun yakni menguji kebenaran dari suatu informasi. Kedua tawaqquf yakni sikap atau perbuatan untuk menahan diri dan tidak langsung mempercayai kabar yang kita terima. Ketiga,
tajannubudzdzan yaitu menjauhi asumsi atau prasangka.
“Itu tentang bagaimana kita menyikapi berita-berita hoaks yang kini sedang marak. Entah kebenarannya itu bagaimana, terpenting dari diri kita sendiri menerapkan tiga T ketika menyikapi berita hoaks,” pungkas Gus Reza.
(jqf)