LANGIT7.ID - Masyarakat muslim di Indonesia sudah terbiasa memakai baju baru saat lebaran atau Idul Fitri. Memakai baju baru saat lebaran seolah sudah menjadi tradisi untuk merayakan hari besar umat Islam itu.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah, Buya Yahya, mengatakan, memakai baju baru saat lebaran memang sudah menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan. Lalu, bagaimana Islam melihat fenomena tersebut?.
Buya Yahya membacakan satu hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari terkait fenomena itu.
Sungguh Abdullah bin Umar, ia berkata, “Umar mengambil sebuah jubah sutra yang dijual di pasar, ia mengambilnya dan membawanya kepada Rasulullah SAW dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, belilah jubah ini serta berhiaslah dengan jubah ini di Hari Raya dan penyambutan. Rasulullah berkata kepada Umar, ‘Sesungguhnya jubah ini adalah pakaian orang yang tidak mendapat bagian’.” (HR Bukhari).
Baca Juga: Maksimalkan Ibadah Akhir Ramadhan: Penuhi Masjid, Bukan Mall
Berdasarkan hadits itu, tidak boleh memakai baju baru berbahan sutra bagi laki-laki. Namun, Buya Yahya juga menyebut Nabi Muhammad SAW tidak melarang umatnya untuk memakai baju yang bagus.
Para ulama menjelaskan, sunnah untuk memakai baju yang bagus. Jika mampu membeli baju baru untuk lebaran, maka itu diperbolehkan. Tidak ada larangan dalam hal ini.
Namun perlu diingat, Idul Fitri merupakan hari besar untuk merayakan jiwa-jiwa yang kembali dalam keadaan suci. Artinya, bukan hanya baju baru yang diupayakan, tapi juga hati juga harus baru, artinya kembali fitri bersih dari keburukan dan dosa.
“Lebaran bukan persoalan baju baru, tapi lebaran atau hari raya adalah orang yang imannya bertambah,” ucap Buya Yahya.
(jqf)