LANGIT7.ID - , Jakarta - Di bulan Syawal, Allah Taala menganugerahkan perayaan Idul Fitri bagi umat Islam sebagai petanda kemenangan setelah satu bulan berpuasa Ramadhan.
Syawal menjadi bulan yang istimewa karena umat Muslim dapat berkumpul dan bercengkerama bersama keluarga. Di samping itu, banyak keistimewaan lain yang ada di bulan ini, salah satunya berpuasa sunnah.
Baca juga: Kapan Waktu Tepat Puasa Syawal? Ini Penjelasan Buya YahyaSahabat Abu Ayyub Al Anshari menerima informasi penting dari Nabi Muhammad SAW yang kemudian informasi tersebut dicantumkan dan dirangkum oleh Al Imam Muslim bahwa Rasulullah pernah bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Artinya: Barangsiapa berpuasa ramadhan, lalu menyambungnya dengan enam hari di bulan Syawal, maka dia akan mendapat pahala seperti berpuasa selama setahun penuh. (H.R Muslim).
Ustaz Adi Hidayat menjelaskan ada tiga hal yang dapat diulas dari keterangan hadis itu. Pertama, Nabi Muhammad SAW memberikan apresiasi yang tinggi kepada setiap insan beriman yang menyempurnakan puasa Ramadhan dengan menambah enam hari berpuasa saat Syawal.
"Dengan enam hari ini nilai pahala dalam keseluruhannya setara dengan satu tahun penuh. Satu bulan ditambah enam hari digabungkan keduanya sehingga memiliki nilai yang setara dengan satu tahun penuh (berpuasa), nilai ini diberikan Allah sebagai hadiah bagi umat nabi melalui kemuliaan rasulnya," kata Ustadz Adi Hidayat dalam tayangan YouTube Adi Hidayat Official dikutip Rabu (4/5/2022).
Menurut Ustadz Adi, hal kedua dalam menunaikan puasa Syawal ini bisa dilakukan dengan dua cara. Yaitu, bisa berurutan merangkai bersamaan hingga di hari ketujuh di bulan Syawal dan berselang tidak berurutan.
"Namun, jika ada kondisi yang tidak memungkinkan dilakukan secara berurutan maka boleh dilakukan secara berselang. Selama satu hari, dua hari atau berdasarkan kondisi tertentu terpenting ada bentang waktu selama satu bulan ditempuh untuk menyempurnakan enam hari puasa Syawal ini," ungkapnya.
Baca juga: Mana Lebih Dulu, Puasa Syawal atau Bayar Utang Ramadhan?Namun, Ustadz Adi menambahkan, bagi muslimah yang masih memiliki hutang puasa Ramadhan, adabnya mendahulukan qadha terlebih dulu. Meski masa qadha masih panjang, mulai Syawal hingga bulan Sya'ban berikutnya.
"Tetapi kita tidak bisa menentukan kapan ajal itu akan tiba, karenanya dari pada kita pulang kepada Allah SWT membawa status berhutang lebih baik selesaikan qadhanya. Kemudian setelah selesai qadha baru kemudian kita menunaikan puasa Syawal dengan kadar waktu yang tersisa dan dilakukan ikhlas karena Allah Taala," tegasnya.
"Tanamkan keinginan kuat untuk menunaikan puasa Syawal dengan harapan bisa menunaikan itu. Boleh jadi Allah berkenan memberikan pahala lebih dulu dengan niat yang ada sekali pun belum mendapati kesempatan untuk mengerjakannya. Ingat kemuliaan dilihat oleh Allah SWT pada kebeningan niat dan keadaan hatinya," tutup Ustadz Adi Hidayat.
Baca juga: (est)