Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 18 Mei 2026
home masjid detail berita

Sejarah Syawal: Runtuhnya Imperium Persia dan Jatuhnya Istana Putih ke Tangan Muslim

miftah yusufpati Selasa, 24 Maret 2026 - 04:30 WIB
Sejarah Syawal: Runtuhnya Imperium Persia dan Jatuhnya Istana Putih ke Tangan Muslim
Kini, puing-puing Taq-i Kisra di Irak menjadi bisu yang mengingatkan manusia tentang musim gugur sebuah adidaya. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Sejarah dunia pada abad ke-7 Masehi mencatat sebuah anomali yang mengguncang tatanan geopolitik global. Di bawah langit Syawal tahun ke-14 Hijriah, sebuah imperium yang telah tegak selama ratusan tahun, Persia Sasania, harus bertekuk lutut. Mada’in, ibu kota kemegahan yang menjadi simbol supremasi bangsa Parsi, jatuh ke tangan pasukan Muslim. Peristiwa ini bukan sekadar perpindahan kekuasaan, melainkan benturan antara kemewahan materialistik yang dekaden dengan kesahajaan yang sarat akan ideologi tauhid.

Penaklukan Mada’in atau Ctesiphon terjadi di bawah kepemimpinan Amirul Mukminin Umar bin Khattab. Namun, di medan tempur, kepiawaian taktik diserahkan kepada Sa’ad bin Abi Waqqas. Sa’ad, yang dikenal sebagai pemanah pertama dalam Islam, memimpin ribuan pasukan melintasi Sungai Tigris yang sedang meluap. Keberanian pasukan ini menyeberangi sungai yang dalam dan deras sempat membuat tentara Persia terpana, mengira mereka sedang menghadapi pasukan jin, bukan manusia biasa.

Ibnu Katsir dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah menggambarkan detik-detik jatuhnya Istana Putih (Al-Qashrul Abyad). Saat pasukan Muslim memasuki koridor-koridor istana yang berlapis emas dan permata, mereka tidak menemukan kemegahan yang dicari, melainkan kesunyian dari sebuah rezim yang telah ditinggalkan pemimpinnya, Yazdegerd III. Harta rampasan perang yang melimpah, termasuk mahkota bertatahkan permata dan karpet raksasa Baharestan yang legendaris, dikirimkan ke Madinah.

Namun, di Madinah, Umar bin Khattab menyambut kemenangan itu dengan air mata. Saat melihat tumpukan perhiasan emas raja-raja Persia, Umar justru menangis. Ia mengutip sebuah peringatan tentang fitnah dunia. Bagi Umar, kekayaan yang melimpah adalah ujian yang jauh lebih berat daripada kemiskinan. Ketakutannya akan rusaknya mentalitas umat akibat kemewahan mencerminkan visi kepemimpinan profetik yang ia warisi dari Rasulullah SAW.

Dalam perspektif Sayyid Qutb dalam Fi Zhilalil Quran, jatuhnya Persia adalah bukti bahwa kekuatan fisik yang besar tanpa landasan moral yang kuat akan runtuh saat berhadapan dengan keyakinan yang tulus. Pasukan Muslim saat itu tidak memiliki teknologi militer yang lebih maju dari Persia, namun mereka memiliki kedaulatan jiwa. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Al-Anfal ayat 65:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ ۚ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ

Wahai Nabi (Muhammad), kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang (musuh). (QS. Al-Anfal: 65).

Secara interpretatif, kemenangan di bulan Syawal ini memiliki makna simbolis. Syawal, yang bermakna meninggi, menjadi momentum bagi Islam untuk naik ke panggung peradaban dunia, menggantikan imperium yang telah rapuh secara internal akibat korupsi dan ketidakadilan sosial. Di bawah komando Sa’ad bin Abi Waqqas, pasukan Muslim mengubah fungsi istana raja menjadi tempat sujud. Salat Jumat pertama di Mada’in menandai berakhirnya era penyembahan terhadap manusia dan dimulainya era penghambaan kepada Tuhan yang Maha Esa.

Keberhasilan di Mada’in juga membuka jalan bagi penyebaran Islam ke Asia Tengah dan seterusnya. Namun, nilai yang paling abadi dari peristiwa Syawal tahun ke-14 Hijriah ini adalah integritas para pelakunya. Karpet Baharestan yang tak ternilai harganya dikirim utuh tanpa berkurang satu permata pun dari Irak ke Madinah oleh tentara-tentara yang kehidupannya sangat sederhana. Hal ini membuat Ali bin Abi Thalib memuji kejujuran pasukan tersebut dan ketegasan Umar sebagai pemimpin.

Kini, puing-puing Taq-i Kisra di Irak menjadi bisu yang mengingatkan manusia tentang musim gugur sebuah adidaya. Syawal mencatat bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada tebalnya tembok istana atau banyaknya emas di perbendaharaan, melainkan pada keadilan yang ditegakkan dan janji yang ditepati. Penaklukan Persia adalah monumen kemenangan bagi kesahajaan di atas kemewahan yang batil.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 18 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
18:59
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)