LANGIT7.ID, Jakarta - Penguatan masyarakat sebagai agen perubahan untuk transformasi pariwisata yang lebih berkualitas, dan berkelanjutan yang berpusat pada lima pilar aksi, menjadi isu utama yang akan dibahas dalam "The 1st Tourism Working Group".
Plt. Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf, Frans Teguh menyatakan pandemi Covid-19 telah memberikan pelajaran yang berharga bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif secara global.
Sehingga, pemulihan dan kebangkitan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif pascapandemi Covid-19 dapat dirasakan oleh masyarakat.
“Krisis ini memperlihatkan betapa pentingnya peran masyarakat dalam mewujudkan pariwisata berkelanjutan. Di mana pariwisata berkelanjutan itu dilakukan sebagai langkah pengelolaan pariwisata jangka menengah dan jangka panjang,” kata Frans dalam keteranganya dikutip Senin (9/5/2022).
Baca juga: Kemenparekraf Siapkan Labuan Bajo untuk Menyambut Presidensi G20Dengan demikian, menurutnya lima line of action yang menjadi fokus utama akan dibahas dalam forum “The 1st Tourism Working Group”, para delegasi G20 yang hadir secara hybrid berkesempatan menyampaikan langkah atau strategi konkrit berdasarkan best practice yang dapat dikerjasamakan antar negara anggota.
“Hal tersebut untuk memastikan bahwa SDM pariwisata teredukasi secara optimal, keterampilan meningkat seiring dengan arus digitalisasi yang semakin maju, dan dengan tetap memperhatikan aspek-aspek pariwisata berkelanjutan,” ujar Frans.
Menurut Frans, 5
line of action ini meliputi,
pertama, human capital yang berkaitan dengan pekerjaan,
skills,
enterpreneurship, dan edukasi, bagaimana SDM pariwisata mampu melihat kebutuhan dan keinginan pasar, menciptakan lapangan kerja baru, dan mampu menghadirkan nilai tambah dari produk atau jasa mereka.
“
Kedua, inovasi, digitalisasi, dan ekonomi kreatif. Fokus pada bagaimana masyarakat mampu lebih inovatif, kreatif, dan adaptif dalam memasuki tatanan ekosistem ekonomi digital, supaya pelaku ekonomi kreatif ini dapat menjangkau pasar yang lebih luas,” ujarnya.
Baca juga: Jantungnya Denpasar, Desa Sanur Menjadi Ikon Pariwisata Pulau Bali Isu
ketiga yakni
women and youth empowerment dimana pemberdayaan perempuan dan generasi muda memiliki peran penting dalam kepulihan, dan ketahanan masa depan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
“Di Indonesia, tercatat pada tahun 2020, ada 53 persen atau 90 juta penduduk Indonesia didominasi oleh kaum milenial dan generasi Z. Hal ini menunjukkan betapa besarnya potensi generasi muda dalam kemajuan sektor pariwisata di masa mendatang,” ungkapnya.
Keempat, climate action, biodiversity conservations, dan
circular economy. Dimana penggunaan energi, tanah, air, dan sumber daya makanan pada sektor pariwisata dapat mengurangi emisi karbon.
Kelima, kerangka kebijakan, tata kelola, dan investasi, dengan fokus membuat kebijakan dan langkah-langkah pariwisata yang lebih holistik guna mendukung 4 pilar
line of action.“Melalui forum internasional ini, kami berharap negara-negara G20 dapat memperkuat sinergi agar segala upaya mewujudkan pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif pascapandemi bisa terealisasi,” harapnya. Frans menuturkan, bahwa untuk keluar dari pandemi ini tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.
“Negara G20 butuh kolaborasi yang apik, sehingga dapat menunjukkan bahwa sektor pariwisata adalah sektor yang tangguh, sektor yang dapat menjadi lokomotif kebangkitan ekonomi dan membuka lapangan kerja seluas-luasnya,” katanya.
Frans juga berharap TWG G20 ini akan menghasilkan kesepakatan bersama di antara negara-negara G20 guna mengatasi tantangan yang ada secara menyeluruh dengan mengedepankan kebersamaan dan sustainability.
(sof)