LANGIT7.ID - Orang Indonesia bahkan Malaysia pasti tahu sarung. Ya,
sarung telah identik menjadi pakaian khas di Nusantara. Kebanyakan digunakan oleh pria terutama dari kalangan pesantren. Ternyata, sarung tak hanya ada di Nusantara tapi juga berbagai belahan dunia dan untuk berbagai keperluan baik pria dan wanita.
Gus Muwafiq menjelaskan, kata
sarung merupakan penyerapan dari kosa kata syar'i, yakni sesuatu yang harus diikuti umat Islam termasuk dalam cara berpakaian.
Gus Muwafiq menyebut kata syar'i memiliki masdar syar'un. Lantaran bangsa Indonesia tidak bisa menyebut 'ain dan menjadi 'ng' maka disebutlah sarung.
"Baju syar'i namanya syar'un. Datang ke Indonesia jadi sarung. Dipakai santri jadi sarungan," kata Gus Muwafiq di kanal Ngaji Diri, Selasa (17/5/2022).
Baca Juga: Identik Dipakai Shalat, Benarkah Sarung Asli dari Indonesia?
Sementara menurut laman allsarongs.com, kata sarung berasal dari bahasa Melayu yang berarti "penutup". Sarung adalah pakaian tradisional Jawa dan Kepulauan Melayu, terdiri dari kain panjang yang dililitkan dan diikatkan ke badan di pinggang atau lengan.
Di masyarakat saat ini, sarung versi fesyen sering berwarna lebih cerah dan digunakan baik oleh pria maupun wanita. Sarung digunakan sebagai rok pembungkus. Saat ini, sarung sudah populer di berbagai belahan dunia sebagai pakaian wanita saat datang ke pantai.
Sarung juga ditenun untuk berbagai keperluan. Mulai dari gaun musim panas, rok, gaun pengantin, syal, turban, taplak meja atau kursi, togas, dan gorden. Kemungkinan yang muncul dalam penggunaan sarung memang tak akan pernah habis.
Sarung di Berbagai Negara Di berbagai wilayah di dunia, sarung memiliki makna sejarah masing-masing. Bagi bangsa Melayu, laki-laki memakai sarung dengan motif kotak-kotak hanya dipakai untuk shalat Jumat. Sementara, wanita Melayu biasanya memakai sarung dalam keseharian mereka.
Secara tradisional, nelayan Arab di Teluk Persia, Laut Merah, dan Samudra Hindia juga memakai sarung. Di Sri Lanka, sarung secara tradisional hanya dikenakan oleh laki-laki dan sebagian besar di dalam rumah karena menandakan status kelas bawah dalam budaya Sri Lanka.
Sarung juga memiliki nama yang berbeda ketika seseorang bermigrasi melalui berbagai daerah. Di bagian selatan India, sarung lebih dikenal dengan mundus. Di sini, mereka seringkali kurang berwarna dibandingkan dengan yang berasal dari Asia Tenggara dan dipakai untuk tujuan keagamaan dan upacara.
Baca Juga: Asal Sarung yang Kini Jadi Budaya Masyarakat saat Ibadah
Di Arab Saudi, sarung dikenal sebagai
izaar, sedangkan di Oman dikenal sebagai wizaar. Di Afrika Timur, sarung yang dikenakan oleh pria disebut
kangas. Sarung yang dikenakan oleh wanita dikenal sebagai
kikois.
Serupa dengan jumlah cara yang berbeda untuk merujuk pada sarung, ada juga berbagai cara di mana seseorang dapat mengenakan sarung. Bahkan, wanita Amerika mengikat sarung di pinggang mereka.
Di Somalia, sarung biasanya diikat ganda agar tetap kokoh di pinggang. Teknik tak berujung yang digunakan dalam mengenakan sarung sangat dipengaruhi oleh gender dan budaya. Terkadang ada ikatan yang dililit ke pakaian sampai kuat. Namun ada pula menggunakan peniti untuk membungkus dan melipat di pinggang.
(jqf)