LANGIT7.ID, Surakarta - Pendiri Partai Pelita, Din Syamsuddin, menjadi pembicara dalam satu panggung bersama pendiri Partai Ummat, Amien Rais. Meski berbeda haluan politik, kedua tokoh itu tetap bisa bersatu dalam memajukan
Muhammadiyah.
Din Syamsuddin yang merupakan Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP)
Muhammadiyah menjabat sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Partai (MPP) Partai Pelita. Sementara, Amien Rais merupakan mantan orang nomor satu di PP
Muhammadiyah menjabat sebagai Ketua Majelis Syura Partai Ummat.
Namun, keduanya terlihat akur duduk bersama membicarakan masa depan Muhammadiyah dalam Seminar Pra Muktamar ke-48 Muhammadiyah yang digelar pada Senin (31/5/2022). Seminar tersebut merupakan rangkaian acara menuju Muktamar ke-48 Muhammadiyah di Solo pada 18-20 November 2022 mendatang.
![Amien Rais dan Din Syamsuddin Satu Panggung, Bersatu Bahas Masa Depan Muhammadiyah]()
Baca Juga: Lampaui Negara hingga Korporasi Global, Muhammadiyah Siap Go Internasional
Pada kesempatan itu, Amien Rais mengingatkan PP
Muhammadiyah tak terlalu sering keluar masuk Istana. Dia mengingatkan hal itu bisa berdampak terhadap organisasi. Pemerintah bakal mudah mengintervensi Muhammadiyah agar sesuai dengan keinginan mereka.
"Jangan dilupakan bahwa rezim sekarang ini tentu akan mengintervensi, bahkan akan melakukan berbagai macam trik yang supaya nanti kemudian hasilnya bisa lebih kurang sesuai dengan keinginan rezim," kata Amien Rais.
Sementara, Din Syamsuddin berbicara tentang peluang dan momentum kebangkitan dunia Islam. Dia menyebut hal tersebut merupakan salah satu tantangan yang harus dihadapi Muhammadiyah.
Dia menyebut Muhammadiyah sangat
qualified jadi motor penggerak, tak hanya di Indonesia juga dunia. "Muhammadiyah itu sekarang infrastruktur gerakannya cukup kuat, oleh karena itu Persyarikatan Muhammadiyah sudah menjadi warga dunia," katanya.
Baca Juga: Muhammadiyah Tegaskan LGBT Merupakan Penyimpangan dan Terlarang
Setidaknya saat ini terdapat 29 Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) yang tersebar di berbagai negara. PCIM berperan sebagai mediator dengan lembaga pemerintah setempat, menjalin relasi dengan dunia usaha.
Semua itu dilakukan dalam rangka membangun jejaring, melakukan mediasi dan tentu saja mendakwahkan gagasan dan pemikiran Islam khas Muhammadiyah. "Gagasan Islam yang dimiliki oleh Muhammadiyah inilah aset terbesar persyarikatan. Kia memiliki Islam Berkemajuan yang berhimpitan dengan gagasan kosmopolitan Islam," kata Din.
(jqf)