LANGIT7.ID - Pakar Pengasuhan Anak Irwan Rinaldi menyebut anak akan rentan mengalami stress jika orang tua tidak menerapkan pola asuh yang tepat. Pola asuh bisa dilihat dari respon orang tua terhadap masalah yang dihadapi anak.
“Nah, bagaimana respon keluarga ketika mendapati anak stress akademik dan stress pengasuhan? respon ini dibagi dua. Ada sebagian keluarga yang merespon dengan positif, dan ada yang negatif,” kata Ayah Irwan dalam webinar yang disiarkan akun Youtube KemenPPPA, dikutip Selasa (3/8/2021).
Orang tua yang merespon positif adalah mereka yang mengembalikan fungsi anak dalam pendidikan anak. Kasih sayang yang menjadi hak anak menjadi optimal, demikian pula dalam pendampingan spiritual, pendampingan intelektual, pendampingan sosial, hingga pendampingan fisikal.
Hal yang menjadi masalah adalah ketika orang tua gugup dan tidak tahu cara mengasuh anak. Mereka hanya menjadi penyedia fasilitas saja, dan tidak memberikan apa yang menjadi hak anak. Secara umum, menurut Ayah Irwan ada tiga model pola asuh anak dalam keluarga, yakni:
Pertama, pola asuh otoriter (authoritarian parenting)Orang tua dengan tipe pola asuh ini biasanya cenderung membatasi dan menghukum. Anak didesak untuk mengikuti perintah dan menghormati mereka. Orangtua dengan pola ini sangat ketat dalam memberikan batasan dan kendali yang tegas terhadap anak-anak, serta komunikasi verbal yang terjadi juga lebih satu arah.
Pola asuh otoriter hanya menjadikan anak sebagai objek yang harus dibentuk berdasarkan keinginan dan kemauan orang tua. Akhirnya, anak yang lahir dari pola ini kurang bahagia, ketakutan ketakutan dalam melakukan sesuatu karena takut salah, minder, dan memiliki kemampuan komunikasi yang lemah.
Kedua, pola asuh demokratis atau otoritatif (authoritative parenting)
Pola ini merupakan pola positif, karena mendorong anak-anak untuk mandiri, namun orang tua tetap menempatkan batas-batas dan kendali atas tindakan mereka. Orang tua tipe ini juga memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan melakukan suatu tindakan, serta pendekatan yang dilakukan orang tua ke anak juga bersifat hangat.
Dengan begitu, komunikasi jadi dua arah dan pengasuhan orang tua bersifat mengasuh dan mendukung. Anak yang diasuh dengan pola ini akn terlihat lebih dewasa, mandiri, ceria, mampu mengendalikan diri, berorientasi pada prestasi dan mampu mengatasi stresnya dengan baik.
Ketiga, pola asuh permisif (permissive parenting)
Pada pola ini, orang tua tidak pernah berperan dalam kehidupan anak. Anak diberikan kebebasan melakukan apapun tanpa pengawasan dari orangtua. Orangtua cenderung tidak menegur atau memperingatkan, sedikit bimbingan, sehingga seringkali pola ini disukai oleh anak.
Orang tua tidak mempertimbangkan perkembangan anak secara menyeluruh. Anak yang diasuh dengan pola ini cenderung melakukan pelanggaran-pelanggaran karena mereka tidak mampu mengendalikan perilaku, tidak dewasa, memiliki harga diri rendah dan terasingkan dari keluarga.
(jqf)