LANGIT7.ID, Jakarta - Ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan pelaku usaha untuk menguji sebuah produk yang diinginkan di pasaran, khususnya produk makanan. Tahapan ini perlu dilakukan secara runut agar menghasilkan strategi yang tepat dalam pemasaran.
Menurut konsultan bisnis, Jaya Setiabudi, beberapa kesalahan yang sering dilakukan adalah dengan mengedepankan strategi pemasaran. Padahal kualitas produk yang dijual belum melewati tahap uji terkait kualitasnya.
“Kebanyakan pelaku usaha itu memikirkan soal trafik. Padahal yang penting itu bukan trafik tinggi diawal penjualan. Tapi bagaimana produk ini nantinya bisa laris dan tetap laris. Untuk urusan buka usaha langsung laris itu gampang, tapi yang sulit adalah ketika buka usaha laris dan bisa terus laris,” ujarnya di Webinar Cara Membuat Produk Ngangenin, Selasa (3/7).
Ada beberapa kesalahan pelaku usaha dalam melakukan penjualan produknya. Berikut adalah kesalahan yang disebutkan oleh muslim yang akrab disapa Mas J ini.
Melakukan endorsement terlalu diniKetika melakukan uji coba produk ngangenin kepada pasar dan target konsumen maka yang perlu diperhatikan adalah timbal balik berupa respon pasar dan konsumen terhadap produk yang dijual.
Sejauh mana nantinya produk tersebut dapat diminati dan bisa mendapatkan pesanan ulang dari konsumen. Dalam hal ini penting mengedepankan kualitas rasa dan tekstur makanan yang tepat, terutama pada produk makanan.
“Endorsement tentu akan menimbulkan perhatian dan konversi dari pengikutnya, dengah harapan menaikkan penjualan dan omzet. Tapi yang perlu diketahui adalah hal ini tidak bertahan lama jika tidak dibarengi dengan kualitas produk yang baik,” ujarnya.
Mengutamakan kemasan ketimbang kualitas produkDalam produk makanan, kualitas ini termasuk rasa, tekstur, bentuk, dan lainnya. Sehingga faktor inilah yang akan menjadikan sebuah produk ngangenin untuk menghadirkan loyal konsumen, dan melakukan pembelian secara berulang.
“Kalau belum apa-apa sudah dikemas dalam kemasan yang baik, bagaimana bisa dicicipi. Mungkin awalnya pembeli akan tertarik, tapi tidak akan melakukan pembelian untuk kedua kalinya jika kualitas produk tidak dihadirkan dengan baik pula,” katanya.
Open resellerBanyaknya jumlah produk yang dijual diawal tidak membuktikan akan mempertahankan loyal konsumen. Semua kembali lagi kepada konsumen yang memiliki loyalitas terhadap produk yang dijual.
“Belum diuji sudah buru-buru open reseller. Open reseller tidak boleh dilakukan sebelum melakukan uji ngangenin, karena perlu ada urutannya. Omzet besar tidak mencerminkan kestabilan dalam sebuah bisnis, tapi omzet kecil itu slow but sure dan bisa menjaring banyak konsumen,” ujarnya.
Meminta testimoniKebanyakan kesalahan pelaku usaha yang sering dilakukan adalah meminta atau memaksa pembeli memberikan testimoni. Sehingga testimoni yang diberikan memiliki unsur keterpaksaan.
“Kalau buat saya meminta testimoni adalah pantangan. Jadi biarkan konsumen memberikan testimoni mereka secara spontan dan natural,” katanya.
Dengan mendapatkan testimoni secara natural, maka akan menunjukkan kesiapan seseorang dalam menjalankan bisnis. Sehingga akan memunculkan sifat profesionalitas dalam diri untuk terus menjalankan dan mengembangkan sebuah usaha.
(zul)