LANGIT7.ID - Kerap menjadi perbincangan berbagai kalangan, apakah boleh seorang muslim beribadah hanya demi mengharap surga dan takut
neraka?.
KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau akrab disapa
Gus Baha menjelaskan, bahwa sah-sah saja seorang muslim beribadah karena berharap surga dan takut
neraka.
Kendati demikian, para ulama sudah membagi tiga tingkatan atau level orang dalam beribadah. Tingkatan tersebut menjadi penentu kualitas ibadah seseorang di hadapan Allah Ta’ala.
Pertama, ibadah
at-tujjar yakni orang yang beribadah kepada Allah karena ingin sesuatu. Ini adalah cara ibadahnya pedagang yang selalu berpikir untung-rugi. Beribadah karena mengharap balasan (at-tujjar). Kerap seseorang terpanggil beribadah karena mengharapkan imbalan. Paling umum adalah imbalan pahala dan surga.
Baca Juga: 5 Golongan Orang yang Masuk Neraka meski Dianggap Rajin Shalat
Kedua, ibadah
al-‘abid yakni orang yang beribadah karena takut. Ini cara beribadah para budak atau hamba sahaya. Beribadah hanya karena takut siksaan. Ini mirip pengendara motor yang memakai helm di jalan raya karena takut ditangkap polisi, bukan demi keselamatan.
Ketiga, ibadah
al-arifin yakni orang yang beribadah karena rasa syukur. Itu adalah cara beribadah orang yang merdeka. Dia menjalankan syariat Islam karena rasa syukur kepada Allah Ta’ala. Mereka tulus karena Allah.
Orang seperti itu ialah mereka yang mendirikan shalat bukan karena takut neraka, tidak pula mengharapkan imbalan pahala dan surga, tapi semata-mata sadar statusnya sebagai hamba. Ibarat, pengendara di jalan raya ada polisi atau tidak akan tetap memakai helm.
Orang seperti yang akan konsisten dalam beribadah, karena merasa sudah teramat banyak nikmat Allah yang dia terima. Nikmat itu harus disyukuri, sehingga terdorong untuk selalu dan terus beribadah kepada-Nya. Mereka beribadah benar-benar karena ikhlas.
“Ikhlas itu ibadah hanya karena Allah Ta’ala. Mungkin hati kita sering tidak ikhlas, tapi ilmu kita ikhlas. Ilmu itu segala-galanya, karena hati itu tidak stabil, maka kuatkan ilmu,” kata
Gus Baha di kanal Santri Gayeng, Rabu (15/6/2022).
Ikhlas harus dilandasi dengan ilmu. Contoh sederhana, sejak kecil setiap orang mengenal kertas berwarna putih atau 1+1=2, dan tetap mengatakan itu meski tidak ada yang membayar. Artinya, dengan ilmu, seseorang akan mengatakan sesuatu yang benar tanpa ada harapan mendapatkan upah.
“Karena putih, kita katakan putih, dan kita tidak mengharapkan upah, karena kita mengatakan fakta. Allah sebagai Tuhan itu fakta. Masa mengatakan Tuhan itu ada saja menunggu dikasih surga. Toh kita mengatakan yang putih itu putih, yang hitam itu hitam, selama ini tidak bayar kita tetap mau mengatakan itu,” kata
Gus Baha.
Baca Juga: Tak Ada yang Berharga di Dunia Selain Sujud kepada Allah Ta'ala
Gus Baha menegaskan, sangat penting melandaskan perkara tauhid pada ilmu. Ilmu akan memandu seseorang kepada al-haq (kebenaran). Maka, seyogyanya setiap ibadah yang dikerjakan berdasarkan ilmu. Bukan, sekadar takut atau mengharap imbalan saja.
“Kata ahli tafsir, di dalam Al-Qur’an ada perintah untuk takut kepada neraka, tapi itu maqam orang biasa. Kalau orang bertakwa pasti takutnya kepada Allah, bukan kepada neraka. Soal nanti takut neraka, tidak apa-apa. Itu pun karena Allah membuat neraka menakutkan. Maka itu, kalau latihan ikhlas itu dimulai dari ilmu. Dan tauhid, pengawalnya adalah ilmu,” ungkap
Gus Baha.(jqf)