LANGIT7.ID - , Jakarta - Belakangan perusahaan rintisan atau
startup dunia termasuk Indonesia dihantam badai pemutusan hubungan kerja (PHK) dan terancam gulung tikar. Sebut saja LinkAja, Shopee, hingga Grab dan Gojek pemain besar industri digital yang dikabarkan melakukan PHK massal,
Ekonom Institut for Development of Economics and Finance (
INDEF), Nailul Huda mengatakan hal tersebut terjadi karena tahun ini banyak perusahaan investasi enggan berinvestasi di perusahaan rintisan digital.
Baca juga: Ini Daftar Startup yang Alami Tekanan Bisnis hingga PHK Karyawan"Banyak perusahaan yang berinvestasi tampaknya sudah mulai enggan untuk berinvestasi lagi ke startup digital. Salah satu alasannya, karena mereka ingin menaikkan suku bunga yang menyebabkan cost dari perusahaan investasi ini menjadi lebih mahal. Makanya, sekarang mereka lebih memilih dan memilah startup mana yang layak untuk diinvestasikan uangnya," ujar Huda saat dihubungi Langit7, Kamis (16/6/2022).
Menurut Huda, ketika perusahaan
investasi selektif dalam memilih maka yang terjadi adalah perebutan antar startup. Sehingga otomatis, startup yang tak terpilih memutuskan mengurangi jumlah karyawan dengan pertimbangan menyelamatkan bisnisnya.
Karakteristik startup, lanjut Huda, ketika beroperasional untuk bersaing, mereka membutuhkan pendanaan. Pendanaan tersebut diperuntukkan untuk operasional dan lainnya.
Huda menjelaskan, tahun lalu, para startup mendapatkan pendanaan secara besar-besaran. Di Indonesia sendiri jika ditotal pendanaan untuk perusahaan rintisan mencapai angka Rp144 triliun.
Baca juga: Bongkar Habis Penyebab Anjloknya Valuasi Pasar StartupSetelah mendapatkan dana, banyak dari mereka memperluas skala usaha dan mempekerjakan ratusan orang dengan gaji yang besar. Hingga berujung menjadi pengeluaran baru bagi mereka.
Huda melihat, tahun ini, pendanaan startup akan lebih selektif. Di pertengahan tahun ini saja, pendanaan yang masuk di Indonesia baru mencapai Rp31 triliun. Artinya belum ada setengah dari periode yang sama di tahun lalu.
"Tahun kemarin mereka sudah mulai memperluas skala usaha dan memasukkan banyak karyawan. Kemudian tahun ini mereka tidak mendapatkan pendanaan secara otomatis jalan satu-satunya untuk mereka bisa bertahan yaitu dengan PHK para karyawannya," lanjut dia.
Huda mengatakan inilah yang nampaknya sedang menimpa para startup termasuk di Indonesia.
"Apalagi pertumbuhan startup di Indonesia sangat tinggi, ada 2300-an startup digital di Indonesia. Sementara pendanaan cuma 31 Triliun. Startup bertumbuh cepat, pendanaan turun. Otomatis mereka banyak yang melakukan efisiensi, makanya tidak heran tahun ini banyak yang mem-PHK karyawan," pungkasnya.
Baca juga: Ini Sumber Dana Startup untuk Kembangkan Bisnis Secara Singkat(est)