LANGIT7.ID, Palembang - Bertani hidroponik memiliki beberapa kelebihan. Salah satunya hemat lahan. Hidroponik merupakan teknik bertanam yang hemat tempat dan lahan.
Dapat dilakukan di rumah meskipun tanpa pekarangan tanah, bahkan bisa dilakukan di lahan yang tertutup semen. Selama ada tempat yang memperoleh sinar matahari untuk proses fotosintesis tanaman sistem hidroponik ini bisa diaplikasikan.
Kelebihan lain bertani hidroponik adalah hemat air dan nutrisi. Hidroponik memakai pupuk yang disebut ab mix sebagai nutrisi tanaman untuk memaksimalkan pertumbuhan tanaman.
Sistem hidroponik bekerja dengan cara menampung atau mensirkulasikan nutrisi dari air ke tanaman. Nantinya nutrisi dan air tersebut terserap ke tanaman dengan penguapan alami. Jadi tidak ada air maupun nutrisi yang terbuang sia-sia karena penyerapan tak sempurna.
Lalu, apa yang harus dilakukan agar berhasil dalam bertani hidroponik?
Pemilik Green Corner Hidroponik di Kota Palembang, Adi Al Qodry, membagikan sejumlah tips bagi Sahabat Langit7 yang ingin memulai usaha hidroponik agar cepat terwujud.
Dalam merintis usaha tersebut, Sahabat Langit7 tak perlu khawatir karena modal awal dapat menyesuaikan. Sebab, hidroponik itu hadir sebagi solusi sehingga dapat menyesuaikan baik itu modal maupun lahan.
“Usaha hidroponik banyak sistem budidayanya yang bisa jadi pilihan. Mulai dari sistem yang paling sederhana sampai skala usaha atau bisnis,” ujar Adi di Palembang, Kamis (5/8).
Misal, kata dia, untuk skala usaha dapat memulai dari 500 sampai 1.000 lobang tanam sudah bisa mulai berbisnis. “Itu kurang lebih modal awalnya sekitar Rp 10 sampai Rp 15 juta,” katanya.
Kendati begitu, ia mengingatkan Sahabat Langit7 sebelum memulai usaha tersebut ada yang harus diperhatikan untuk persiapan. Salah satunya adalah harus yakin terlebih dahulu.
“Kenapa harus yakin? Karena sekali terjun ke bisnis hidroponik harus nyebur sekalian, tidak bisa tanggung-tanggung. Kalau tak yakin dan sering putus di tengah jalan, kita sendiri yang akan rugi baik modal maupun waktu,” beber dia.
Dalam sisi pembangunan kebun, lanjut dia, lahan tempat buat kebun harus dipastikan terkena sinar matahari, pemilihan sistem di kebun yang pas, ketersediaan listrik, dan air yang mencukupi untuk beroperasinya kebun. Kemudian, baru menyiapkan yang lainnya, baik itu bibit maupun pupuk.
Selanjutnya sisi market, ia menyarankan agar sebelum menjajaki pasarnya ke mana atau kalau belum mempunyai pasar tidak ada salahnya bermitra dengan yang sudah jalan dan punya pasar.
“Kalau bermitra, jadi terjamin tersalurkan hasil panennnya. Kita juga aman kalau bermitra dengan orang yang tepat. Salah satunya dengan bermitra usaha dengan Green Corner untuk menjadi plasma,” ucap dia.
Berbicara soal harga jual, ia menyebut tentunya berbeda-beda untuk setiap jenis sayuran. Rata-rata, dirinya menjual tiap sayuran per 250 gram.
“Kita bisa mulai menjualnya per 250 gram dengan dipacking itu mulai dari Rp 10.000 sampai Rp 25.000. Itu tegantung jenis sayuran. Namun, jika menjual ke resto hotel itu jualnya kiloan berkisar Rp 25.000 sampai Rp 65.000,” tutup dia.
(zul)