Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 24 Mei 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Bolehkah Mencari Ilmu Agama untuk Mendapatkan Harta?

Muhajirin Senin, 20 Juni 2022 - 06:00 WIB
Bolehkah Mencari Ilmu Agama untuk Mendapatkan Harta?
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID - Menuntut ilmu terlebih ilmu agama, merupakan kewajiban setiap individu. Kewajiban tersebut terus melekat sampai ajal menjemput. Lalu, bagaimana Jika seseorang menuntut ilmu dengan niat untuk mendapatkan harta?

Direktur Aswaja Center PWNU Jawa Timur, KH Ma’ruf Chozin, menegaskan bahwa orientasi utama seseorang dalam menuntut ilmu adalah mencari ridha Allah Ta’ala. Dia menegaskan, mencari ilmu agama tidak boleh untuk mencari harta.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abu Hurairah dijelaskan, seseorang yang mencari ilmu untuk mendapatkan harta tidak akan mencium bau surga.

“Barang siapa yang mencari ilmu yang seharusnya mengharapkan ridha Allah, tetapi dia Gunakan hanya untuk mendapatkan harta dunia, maka dia tidak akan mencium bau surga.” (HR Ibnu Majah).

Baca Juga: Pendidikan Hanya Jadi Jembatan untuk Mencari Uang, Ini Kata Kiai Profesor dari Gontor

Dalam unggahannya di twitter, KH Ma’ruf Chozin mengomentari sebuah postingan yang menceritakan seorang ibu-ibu yang memiliki anak lulusan pesantren tahfidz. Lalu, sang anak mengajar di pesantren dengan gaji Rp500 ribu.

Tak puas dengan nominal tersebut, anak itu pun keluar dari pesantren dan memilih bekerja di pabrik yang memiliki gaji jauh lebih besar. Ibu tersebut menyindir pengurus pesantren yang dianggap tidak menghargai jasa pengajar.

KH Ma’ruf Chozin lalu menceritakan pengalamannya saat nyantri dulu. Dia lulusan dari Pondok Pesantren Ploso. Setelah lulus pondok itu, dia langsung ke Surabaya di rumah mertua. Dia tidak punya skill kerja, tidak ada relasi dan tidak ada yang memberikan tawaran pekerjaan.

Baca Juga: Hati-hati, Mencari Ilmu untuk Dunia Bisa Merusak Ilmu

“Saya bisa nyetir dan mertua punya mikrolet, tiap saya minta jadi sopir selalu dilarang oleh mertua. H Rokib bilang, ‘Kalau saya cuma ingin menantu sopir, saya tidak akan mengambil menantu sampeyan.’,” cerita KH Ma’ruf Chozin.

Hampir satu tahun KH Ma’ruf Chozin jadi pengangguran. Dia lalu diterima mengajar Iqra’ di Pogot 5 Surabaya pada 2004. Satu tahun berikutnya, dia diterima mengajar di Madrasah Ibtidaiyah Yatabu Kedinding, cabang dari Pondok Pesantren Bahrul Ulum Rangkah.

“Relasi kenalan bertambah, ngajar di SMA Triguna, Kiai Tambakberas Kenjeran. Hingga akhirnya bisa mencukupi hajat primer keluarga, berlanjut punya toko dan setelah 15 tahun lebih Allah memberi rezeki yang bisa membantu para santri dan lainnya,” pungkas KH Ma’ruf Chozin.

Menurut KH Ma'ruf Khozin memang seolah ada kontradiksi antara mencari ilmu agama tidak boleh untuk harta. Namun secara dalil memanglah demikian sehingga bagi seorang penuntut ilmu tak boleh khawatir akan rezeki yang Allah berikan.

Baca Juga: Pendidikan Menurut Al-Ghazali: Ilmu Agama dan Keterampilan Dunia Harus Saling Melengkapi

"Guru saya, K.H. Nurul Huda Djazuli Ploso, selalu berpesan dari kitab Nahwu: Orang yang berilmu tidak akan hidup sia-sia," kata KH Ma'ruf Khozin di akun twitternya, dikutip Senin (20/6/2022).

Dia menegaskan, yang diperlukan oleh seorang ahli ilmu dalam mendapatkan rezeki hanyalah sebuah kesabaran yang besar. Allah pasti telah mempersiapkan rezeki terbaik untuk hambaNya.

"Dari ilmu agama menuju rezeki hanya perlu kesabaran ekstra. Kalau tidak sabar dengan sempitnya rezeki akan terjadi dikhawatirkan seperti cerita sebelumnya," kata KH Ma'ruf Khozin.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 24 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)