LANGIT7.ID, Jakarta - Jauh sebelum Islam masuk ke Mesir ratusan tahun silam, penduduk memiliki ritual kuno yang dilakukan di Sungai Nil. Mereka biasa melarungkan seorang wanita sebagai korban untuk menyuburkan aliran sungai yang jadi sumber kehidupan.
Dalam kepercayaan Mesir kuno, orang yang tenggelam di sungai Nil dianggap suci. Ritual ini biasa dilakukan saat menyambut datangnya tahun baru dalam kalender bangsa Qibti.
Wanita yang dikorbankan haruslah masih gadis, lalu dihiasi dengan pakaian dan perhiasan mewah untuk selanjutnya dipersembahkan kepada dewa. Saat dakwah Islam masuk ke negeri ini, ritual persembahan sempat terhenti.
Namun, suatu kali menjelang tahun baru, Sungai Nil benar-benar mengering. Penduduk menganggap keringnya sungai akibat tradisi persembahan tak lagi dilakukan. Gubernur Mesir, Amr bin Ash, menolak ritual yang sama muncul kembali.
Gubernur pun mengadu kepada Khalifah Umar bin Khattab. Dalam suratnya, Amr bercerita mengenai tradisi lama penduduk Mesir dan upayanya melarang tradisi itu terancam gagal. Khalifah membenarkan tindakan Amr dan mengirim surat balasan.
"Saya mengirim satu kartu di dalam surat ini. Buanglah kartu itu ke dalam Sungai Nil," tulis Khalifah Umar.
Sebelum melemparkannya, Amr sempat membuka kartu tersebut. Khalifah menulis di dalamnya. "Dari hamba Allah, Umar Amirul Mukminin, kepada Sungai Nil penduduk Mesir. Amma badu:
"Jika engkau mengalir karena inisiatifmu sendiri, janganlah engkau mengalir karena kami tidak membutuhkanmu. Namun, jika Allah yang mengalirkanmu, maka aku berdoa kepada Allah yang Maha Esa dan Perkasa untuk membuatmu mengalir."
Amr lalu melemparkan surat tersebut sehari sebelum ritual tahunan digelar. Keesokan harinya, tepatnya pada Sabtu pagi, Allah membuat Sungai Nil kembali mengalir bahkan hingga setinggi 12 meter dalam waktu satu malam. Kisah ini tertulis dalam Tarikhul Khulafa.
(bal)