LANGIT7.ID, Jakarta - Ustaz Abdul Somad (UAS) dikenal sebagai pendakwah yang pandai mengemas ilmu fikih dengan humoris dan sederhana. Meski kerap mengundang tawa, tapi pesan inti tetap tersampaikan kepada jemaah.
Baru-baru ini, ada seorang jemaah yang bertanya kepada UAS perihal perbedaan waktu Idul Adha 1443 H di Arab Saudi dan Indonesia. Sontak, UAS menjawab dengan gaya khasnya.
"Kita ikut Makkah apa Pekanbaru Ustadz? tanya jemaah tersebut kepada UAS.
"Makkah itu punya
mathla' sendiri, Pekanbaru punya
mathla' sendiri. Makkah punya
syuruq sendiri, Pekanbaru punya
syuruq sendiri. Tak sama. Mana bisa kita ikut Makkah. Kalau kita di Pekanbaru ikut Makkah. Berarti shalat
zhuhur kita jam 15.30 WIB,” jawab UAS.
Baca Juga: UAS dan Ustaz Hanan Attaki Kolaborasi Kembangkan Pendidikan Pesantren
"O gitu, tapi, berarti kita lebih dulu Ustadz. Kok bisa Makkah Idul Adha Sabtu 9 Juli, kita Idul Adha Ahad 10 Juli?” tanya jemaah itu lagi.
"Waktu sholat pakai waktu matahari, kita di timur lebih dulu. Kalau awal bulan itu ikut Hilal, bulan, yang di barat lebih dulu,” jawab UAS.
Seolah tak mau kalah, jemaah itu kembali menanyakan perihal puasa Arafah yang mengikuti waktu wukuf di Arafah. "O begitu. Tapi kan puasa Arafah tu ikut Wuquf Ustadz?!” sanggahnya.
"Wuquf ikut apa? Ikut tanggal 9. Tanggal 9 ikut apa? Ikut tanggal 1. Tanggal 1 ikut apa? Ikut hilal. Jadi puasa tu tanggal 9, bukan tanggal 8, bukan pulak tanggal 10. Ikut mathla' daerah masing-masing,” tutur UAS.
Tak sampai di situ, jemaah itu kembali meminta kepada UAS satu dalil yang menjelaskan perihal perbedaan waktu Idul Adha pada zaman Rasulullah. "O begitu. Tapi apa itu pernah terjadi zaman Salaf ustadz?”
Baca Juga: Perbedaan Waktu Idul Adha, Ikut Pemerintah atau Arab Saudi?
"Kuraib dari Madinah ke Syam. Di Syam mereka melihat Hilal malam Jum'at. Ibnu Abbas di Madinah melihat Hilal malam Sabtu. Syam dengan Madinah aja beda
mathla', apalagi Makkah dengan Pekanbaru,” ucap UAS.
Lalu, jemaah tersebut mengangguk mengerti.
"O begitu, tapi Ustadz.” tanya jemaah. UAS lalu melontarkan candaan kepada jemaah itu. "Sekali lagi kau bilang O, ku doakan mulut kau bulat.” kata UAS, jemaah itu pun tersenyum.
(jqf)