LANGIT7.ID, Jakarta - Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP
Muhammadiyah, Oman Fathurohman, mengatakan, menilai perbedaan penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah merupakan hal wajar. Bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di negara-negara lain.
Perbedaan itu bukan semata-mata dari metode hisab dan rukyat, tapi terkait kriteria tinggi hilal. Pemerintah menetapkan 3 derajat, sedangkan Muhammadiyah kurang dari 3 derajat asal telah terjadi konjungsi, dan konjungsinya sebelum terbenam, maka sudah ditetapkan bulan baru.
Baca Juga: Tanya Jawab UAS dan Jemaah Soal Perbedaan Waktu Idul Adha“
Idul Adha yang akan datang,
Muhammadiyah berbeda dengan yang ditetapkan oleh pemerintah lewat Kemenag. Perbedaan ini bukan hanya kali pertama, tapi sudah kerap terjadi,” kata Oman dalam Seminar Idul Adha 1443 H di Universitas Ahmad Dahlan (UAD), dikutip laman resmi Muhammadiyah, Senin (4/7/2022).
Oman mencatat, dalam kurun 25 tahun ke depan yakni tahun 1444 H-1468 H atau 2023 M-2046 M diprediksi akan terjadi perbedaan
Idul Adha antara Muhammadiyah dan pemerintah sekitar tujuh kali.
Artinya, tujuh kali dari 25 tahun itu 25 persen berbeda dengan pemerintah. Selain itu, Idul Fitri juga diprediksi akan berbeda enam kali dan awal Ramadhan tiga kali. Umat Islam harus bersiap dengan perbedaan itu dan bijak menyikapinya.
Baca Juga: Perbedaan Waktu Idul Adha, Ikut Pemerintah atau Arab Saudi?
“25 tahun ke depan sampai tahun 2046,
Muhammadiyah akan berkali-kali berbeda dengan pemerintah, kecuali kalau kriteria pemerintah berubah. Kalau kriteria masih sama, maka prediksinya seperti itu. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mempersiapkannya,” kata Oman.
(jqf)