LANGIT7.ID, Jakarta - Pengasuh Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, KH Mu’in Abdurrohim, mengatakan, pandemi Covid-19 memang membawa rentetan kesulitan dalam kehidupan manusia. Namun, musibah itu tak sepatutnya membuat seseorang lupa bersyukur kepada Allah Ta’ala.
“Terpenting, kita harus selalu bersyukur kepada Allah. Jangan sampai adanya corona menjadikan kita tidak mensyukuri nikmat Allah,” kata Abah Mu’in dalam pengajian daring melalui facebook Kajian Abah Mu’in Abdurrohim, dikutip Sabtu (7/8/2021).
Dia menyebut bilai atau bala yang Allah turunkan kepada manusia bisa dihitung. Akan tetapi, berbeda dengan nikmat-Nya. Tidak ada satupun makhluk yang dapat menghitung nikmat yang Dia turunkan kepada makhluk-Nya.
“Seharusnya kita tetap bersyukur karena Allah hanya menurunkan wabah Corona. Padahal, Dia lebih kuasa untuk menghilangkan semua manusia di muka bumi ini,” ucap dia. Dia mengumpamakan, jikalau tiba-tiba meteor jatuh ke bumi atau Allah Ta'ala menghilangkan air dari dalam bumi, bagaimana nasib manusia? kejadian seperti itu sangat mudah Allah.
Beliau lalu menyampaikan sejumlah nasihat dalam menghadapi pandemi. Pertama, usai shalat berjamaah usahakan beristighfar minimal satu kali. Istighfar bukan karena takut akan pandemi Covid-19 atau takut wafat dan lain sebagainya. Namun minimal seseorang mengakui dengan sepenuh hati bahwa ia adalah makhluk penuh dosa disertai penyerahan diri.
Kedua, disiplin menerapkan protokol kesehatan. Ketiga, jikalau lisan menganggur, misal tak membaca Al-Qur’an, maka lebih baik menyibukkan diri dengan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
“Jadi, kalau membaca shalawat menyambung dengan nur Nabi Muhammad, semua alam raya ini juga berasal dari Nur Nabi Muhammad,” ucap dia.
Abah Mu’in lalu menyampaikan, ada tiga amalan yang tidak boleh ditinggalkan. Pertama, tidak meninggalkan shalat berjamaah, meskipun shalat hanya dengan istri atau anak saja. Kedua, harus terus birrul walidain atau selalu berbuat baik kepada kedua orang tua. Ketiga, memerangi hawa nafsu, yakni memerangi diri sendiri, salah satunya malas mengaji atau thalabul ilmi.
“Barang siapa yang keluar rumah untuk mencari ilmu, itu berarti dia sedang berjuang di jalan Allah. Ketika Allah menghendaki kita kembali, maka syahid.” pungkasnya menyitir hadits Nabi SAW
(jqf)