LANGIT7.ID - , Jakarta - Melancong ke berbagai negara tidak hanya membuat hati senang tetapi juga mendapatkan banyak pelajaran, terutama mengenai budaya setempat.
Namun, terkadang masalah muncul karena perbedaan ras yag membuat para
wisatawan mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari penduduk lokal.
Baca juga: Anti Repot-Repot Klub, Ini 6 Rekomendasi Barang Wajib TravelerPenulis buku Life Traveler,
Windy Ariestanty salah satu orang yang kerap mendapat perlakuan tidak menyenangkan itu. Meskipun begitu, dia mengaku tidak pernah memasukkannya ke dalam hati.
"Pernah. Cuek aja dan nggak dimasukkan ke hati. Buat apa?,"ujar Windy kepada Langit7.Id, Jumat (8/7/2022).
Menurut dia, tujuannya berjalan-jalan untuk mengetahui dan memahami banyak hal. Artinya, dia harus siap menerima semua hal yang didapat termasuk perlakuan tidak menyenangkan.
"Melakukan perjalanan berarti keluar dari zona nyaman, mengunjungi tempat baru berarti bersiap bertemu dengan hal-hal yang tak menyamankan kita dan sejauh mana kita bisa adaptif," ucapnya.
"Dari peristiwa yang nggak mengenakan kita jadi tahu, mau jadi orang yang sama untuk orang lain atau jadi orang yang bisa memberikan pengalaman berbeda," lanjut Windy.
Dia pun meyakini dari pengalamannya itu masih banyak orang yang bisa memanusiakan orang lain meski berbeda.
Baca juga: Ini Daftar Artis yang Punya Bisnis Travel Haji dan UmrahMenurut wanita yang pernah mengunjungi
Masjid Al Aqsa ini, kita tidak bisa mengubah dan berharap orang berubah. Hal yang bisa dilakukan, lanjut Windy, adalah mengubah pola pikir diri sendiri.
"Kita nggak bisa berharap orang berubah, yang bisa kita lakukan mengubah sudut pandang kita dan cara kita memperlakukan orang," pungkasnya.
(est)