LANGIT7.ID, Semarang - Pengasuh API Tegalrejo Magelang, KH M Yusuf Chudlori mengajak masyarakat agar jangan takut memondokkan anaknya untuk belajar agama di pondok pesantren. Karena belajar di luar pondok pesantren, belum tentu aman sehingga pondok pesantren menjadi opsi terbaik.
“Justru kalau di luar lebih ngeri lagi. Hari ini pergaulan lebih ngeri lagi,” kata Yusuf Chudlori di kanal Youtube Fast FM, menanggapi kasus pelecehan seksual di Jombang, dikutip Senin (18/7/2022).
Tidak semua pesantren dikonotasikan seperti kejadian di Jombang. Tinggal bagaimana orang tua pintar memilah dan memilih pesantren. Dalam mencari pesantren, harus jelas sanad keilmuannya. Harus hati-hati, apalagi sekarang banyak guru ngaji privat.
“Contoh. Saya mondok di sini. ini kiai alumni mana?
njenengan harus tahu. Muridnya siapa? Juga track record pengasuhnya,
track record ustad-ustad, dipahami,” katanya.
Baca juga: Pesantren Al Hidayat Gerning Sukses Budidaya Melon Sultan“Lebih baik mencari pesantren aman-aman saja yang puluhan tahun berdiri, tidak ada persoalan yang serius. kalau cobaan, pasti tiap pesantren ada ujiannya, asal tidak berkembang menjadi kontraproduktif,” paparnya.
Selain melihat sanad keilmuan, juga bisa mencari referensi dari orang terdekat. Seperti dari ayahnya dulu mondok di mana, dan anaknya dikirim ke pondok tersebut. Setelah anaknya, berikutnya adalah cucunya.
“Bapaknya di Lirboyo, anaknya di Lirboyo. Dulu kakaknya di Tegalrejo, sudah lulus. dan tidak ada masalah, kemudian anaknya. Pola pengajaran, ubudiyah tidak berubah. Miris jika memilih pesantren tidak mutabar, dan tidak jelas asal usulnya. ustadnya pendatang, pesantren tiban,” kata dia.
Menurut Gus Yusuf, tidak bijak ketika menggeneralisir bahwa semua pondok pesantren ini sama. Karena pesantren yang betul-betul mendidik, kiai dan bu nyai yang ikhlas demi syiar agama, kebesaran agama masih banyak. Jangan karena oknum, masyarakat takut mengembalikan anak ke pesantren.
“Tolong kirim ke pesantren, tapi pesantren yang aman. Kalau di bawah naungan NU jelas, kita ada wadah asosiasi pesantren, Rabithah Ma’ahid Islamiyah ( RMI). kiai-kiai saling komunikasi dan mengingatkan, kalau ada perkembangan seperti ini disikapi bersama-sama, ada wadah untuk memperbaiki, saling taawun dan menolong,” katanya.
Baca juga: Alasan Utama Orang Tua Harus Masukkan Anak ke Sekolah MuhammadiyahDi sisi lain, beberapa kasus yang menyeret pesantren seharusnya menjadi intropeksi, terutama bagi pengelola pesantren dan para guru ngaji. Karena papun, ketika sedang berjuang di jalan agama, godaan pasti berat. Jika godaan kalau tidak diimbangi dengan upaya lahiriah dan batiniah yang kuat, ada yang tergelincir.
“Manusia, semua masih mungkin digoda, tinggal bagaimana benteng kita. kalau kita mendekat ikhlas, dengan jalan yang benar. Insya Allah kita akan diselamatkan oleh Allah SWT,” ungkapnya.
(sof)