LANGIT7.ID, Jakarta - Wabah Covid-10 di Tanah Air tidak hanya mengintai orang dewasa, namun juga anak-anak. Sementara anak terlebih yang masih dalam usia dini, ketika isolasi mandiri tentu membutuhkan pendampingan dan perawatan dari orang tua saat terjangkit Covid-19.
Dilansir dari nu.or.id, Dokter RSUD Purwokerto Jawa Tengah, dr Rosalia Kusuma Dewi membagikan tips merawat anak atau bayi yang tengah melakukan isolasi mandiri. Orang tua tetap bisa mengasuh anak yang positif Covid-19 dalam satu ruangan dengan beberapa catatan.
Pertama, orang tua atau pengasuh harus memiliki risiko rendah terhadap gejala berat Covid-19. Kedua, jika ada anggota keluarga yang positif maka dapat isolasi bersama. Namun, jika orang tua dan anak memiliki status Covid-19 yang berbeda, maka disarankan memberikan jarak tidur dua meter di kasur terpisah serta terus memberikan dukungan psikologis pada si anak.
Sementara, untuk isolasi anak remaja sudah harus mandiri. Dr Rosalia menganjurkan anak remaja diisolasi dalam satu ruangan berbeda. Namun, jika kondisi ibu tidak memungkinkan untuk merawat anak/bayinya maka keluarga lain yang tidak terinfeksi Covid dapat merawat bayi termasuk membantu pemberian ASI perah selama ibu sakit.
Di samping itu, hal yang tak kalah penting adalah bayi yang masih mengonsumsi ASI harus tetap diberikan ASI, dengan protokol kesehatan.
“Ibu dapat menggunakan alat pelindung diri (APD) masker dan pelindung mata bila memungkinkan. Pastikan mencuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh dan menyusui bayi,” kata dr Rosalia.
Ketiga, orang tua harus menyediakan asupan makanan bergizi seimbang, memberikan ASI kepada bayi dan suplemen dalam bentuk obat seperti multivitamin yang mengandung vitamin C dan vitamin D3 serta zink.
Orang tua perlu konsultasi ke dokter jika menemukan gejala Covid-19 pada anak sebagai berikut. Jika demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, sakit kepala, mual/muntah, diare, lemas, dan sesak nafas.
Selain itu, lanjut dia, orang tua perlu waspada terhadap kondisi anak dan segera membawa anak ke rumah sakit jika menemukan gejala anak banyak tidur, nafas cepat, ada cekungan di dada, hidung kembang-kempis, saturasi oksigen kurang dari 95 persen.
“Atau mata merah, ruam, leher bengkak, mengalami demam lebih dari tujuh hari, kejang, tidak bisa makan dan minum, mata cekung, terjadi penurunan kesadaran, ini perlu diantisipasi,” ucap dr Rosalia.
Sementara, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memaparkan beberapa syarat bagi anak-anak yang harus diisolasi mandiri akibat Covid-19.
Berdasarkan panduan isoman yang dikeluarkan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada Juni 2021, terdapat beberapa syarat bagi anak yang melakukan isolasi mandiri.
Pertama, tidak bergejala atau asimtomatik. Kedua, gejala ringan seperti batuk, pilek, demam, diare, muntah, ruam-ruam. Ketiga, anak aktif, bisa makan dan minum. Keempat, menerapkan etika batuk. Kelima, memantau gejala atau keluhan yang dirasakan oleh anak-anak. Keenam, pemeriksaan suhu tubuh dua kali sehari (pagi dan malam hari). Ketujuh, lingkungan rumah atau kamar memiliki ventilasi yang baik. Namun demikian, orang tua juga berperan penting dalam merawat anak saat isoman.
(jqf)