LANGIT7.ID, Jakarta -
Krisis ekonomi yang melanda Sri Lanka akibat gagal membayar utang luar negeri sebesar US$ 51 miliar atau setara Rp 729 triliun (kurs Rp 14.300). Diketahui salah satu kewajiban Sri Lanka ialah membayar
utang ke China.
China dianggap sengaja memberikan pinjaman kepada negara lain dengan tawaran nilai utang yang besar. Namun, disisi lain negara Tirai Bambu itu membuat kontrak yang menguntungkan sepihak bila utang tak dilunasi tepat waktu.
Baca Juga: Organisasi HAM Desak Singapura Ekstradisi Gotabaya Rajapaksa ke Sri LankaNamun, tak hanya
Sri Lanka yang masuk 'jebakan' utang China. Sedikitnya, ada empat negara lainnya yang masuk dalam rencana 'jebakan utang China'.
Artinya, negara yang diutangkan terpaksa menyerahkan sejumlah asetnya kepada China sebagai ganti atas pinjaman belum terbayarkan. Berikut negara-negara yang asetnya disita China karena tidak mampu membayar utang, yang Langit7.id himpun dari berbagai sumber, Rabu (27/7/2022).
1. TajikistanTajikistan dikenal sebagai negara yang bergantung dengan utang China, salah satunya untuk pembangunan gedung parlemen baru. China memberikan sekitar USD120 juta dari total UDD205 Juta total estimasi biaya pembangunannya.
Namun, dalam proyek ini, pemerintah Tajikistan hanya menyumbang sekitar USD17,4 juta. Sementara proyek itu bernilai USD349 juta.
Dalam upaya melunasi utang China, Tajikistan memberikan konsesi kepada Tianwei Baobian Electric (TBEA) untuk mengembangkan tambang emas Kumarg dan Duoba Timur. Namun bila tambang tidak mengandung cukup emas, Tajikistan memberikan izin kepada China untuk pengembangan aset lainnya.
Tak hanya itu, pada 2011 Tajikistan juga pernah menyerahkan 1.100 kilometer persegi tanah atau 1 persen wilayah negara tersebut untuk China. Ini dilakukan karena belum bisa sepenuhnya membayar utang ke China.
2. MontenegroSalah satu negara Eropa ini juga pernah berurusan dengan utang China. Mengutip dari NPR, Motenegoro pernah memiliki proyek pembangunan jalan raya dari Port of Bar Montenegro di Laut Adriatik ke Beograd.
Pada 2014, pemerintah Montenegoro kerja sama dengan China Road and Bridge Corporation, didanai Export-Import Bank of China. Sayangnya, Montenegro tidak bisa membayarkan besaran utang tersebut tepat waktu.
Akibatnya, Export-Import Bank of China menyita tanah di negara tersebut, kecuali bagian militer atau tempat diplomatik.
Baca Juga: Kekurangan Devisa, Sri Lanka Batasi Impor BBM 12 bulan ke Depan3. ZimbabweSejak 1998, Zimbabwe mengirim pasukan dan membeli peralatan dari China untuk membantu Presiden Laurent Kabali melawan pemberontak Uganda dan Rwanda. Dalam membiayai aktivitas tersebut, Zimbabwe harus berutang kepada China dengan akumulasi nilai mencapai USD4 juta.
4. UgandaNegara di Afrika Timur ini gagal bayar utang ke China untuk pengembangan Bandara Internasional Entebbe, Uganda. Sejumlah, aset Uganda diambil alih oleh China.
Diketahui, pemerintah Uganda mendapatkan pinjaman dari Bank Exim China sebesar USD207 juta untuk memperluas Bandara Internasional Entebbe. Namun, pemerintah Uganda menepis adanya penyitaan aset Bandara Internasional Entebbe oleh China.
Juru Bicara Otoritas Penerbangan Sipil Uganda, Vianney Luggya, negaranya tak pernah gagal memenuhi kewajiban membayar pinjaman. "Tidak benar bahwa Uganda akan kehilangan Bandara Internasional Entebbe dengan cara apa pun. Ini bukan pertama kalinya tuduhan itu muncul. Kami masih dalam masa tenggang tujuh tahun dan selama periode itu kami telah membayar bunga, " ujarnya, mengutip dari VOA.
Baca Juga:
PM Mario Draghi Mundur, Presiden Italia Bubarkan Parlemen
Joe Biden Positif Covid-19, Xi Jinping Turut Bersimpati(asf)