LANGIT7.ID, Surabaya - Ketua Aswaja NU Center Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Ma’ruf Khozin, merespon penolakan
Ustadz Hanan Attaki di beberapa kota di Jawa Timur. Dia menegaskan, alasan penolakan tersebut bukan karena Ustadz Hanan Attaki sesat.
“Tidak. Tidak sesat,” kata KH Ma’ruf Khozin, kepada wartawan, Kamis (28/7/2022).
KH Ma’ruf sependapat dengan Wakil Bupati Jember, Gus Firjaun, tentang fenomena penolakan
Ustadz Hanan di Jawa Timur. Dia mengatakan, masing-masing kota memiliki kekhasan dalam berdakwah.
Di Jember dan beberapa kota lain di Jawa Timur, kata dia, memiliki tingkat religius yang tinggi. Itu karena ada banyak pesantren, pendidikan tinggi, majelis dzikir, dan majelis ilmu di daerah-daerah tersebut.
Baca Juga: Pemkab Jember Batalkan Konser Langit Ustaz Hanan Attaki
“Cara dakwah gaul bukannya tidak baik, tapi kurang tepat di satu kawasan tertentu. Namun harus diakui juga efektif dan berhasil mendakwahi orang-orang yang masih jauh dari ilmu Agama,” ujar KH Ma’ruf.
Dia menjelaskan, penolakan
Ustadz Hanan Attaki berkenaan dengan strategi dakwah saja. Dia meminta agar setiap dai menempatkan metode dakwah sesuai dengan kultur yang tepat. Dia mengaku pernah mengalami penolakan karena dianggap metode dakwah yang digunakan tidak sesuai dengan kampus.
“Saya pun juga pernah mengalami penolakan di kampus tertentu karena dianggap tidak sesuai dengan Pendidikan Tinggi. Saya pun menerima dan menyadari,” ujar KH Ma’ruf.
Tercatat ada empat daerah di Jawa Timur yang menolak kegiatan dakwah dan ceramah
Ustadz Hanan Attaki. Penolakan pertama terjadi di Gresik. Kala itu, dia akan berceramah dalam Konser Langit di Masjid Agung Maulana Malik Ibrahim, Gresik, pada 30 Juli 2022.
Baca Juga: Batal Tampil, Ini 7 Sikap Panitia Konser Langit Ustaz Hanan Attaki
Acara lalu digeser ke Jember karena mendapat penolakan di Gresik. Acara direncanakan digelar pada 29 Juli 2022 pukul 17.00 WIB di Gor PKPSO Jalan Nusantara, Kecamatan Kaliwates, Jember. Namun acara ini juga ditolak.
Panitia lalu mempertimbangkan untuk menggeser ke Situbondo yang rencananya akan digelar di sebuah pondok pesantren di Sukorejo, Situbondo. Penolakan kembali datang. Penolakan juga terjadi di Kabupaten Sumenep, Madura.
(jqf)