LANGIT7.ID, Jakarta - Ibu Kota Jakarta menyimpan beragam keunikan arsitektur masjid. Masjid Agung Al-Munada Baiturrahman atau yang lebih dikenal sebagai Masjid Perahu merupakan salah satunya.
Bangunan perahu di samping masjid menjadi daya tarik tersendiri bagi jamaah yang singgah untuk melaksanakan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT (
taqarrub ilaAllah).
Melirik kilas balik, Masjid yang terletak di Jalan Raya Casablanca, Tebet, Jakarta Selatan ini awalnya sebuah musala, kemudian dibangun menjadi sebuah masjid oleh KH Abdurrahman Massum.
Bendahara Masjid Agung Al-Munada Baiturrahman, Maksyur mengatakan, bangunan perahu diperuntukan sebagai sarana wudu. Serta memiliki sejumlah versi cerita dibangunnya perahu di samping masjid.
Baca Juga: Cegah Kekerasan Remaja, Sosiolog: Ortu Perlu Rutin Pantau Medsos Anak"Pada zamannya ada konflik dengan Malaysia mengenai perebutan pulau, dari pihak angkatan laut mohon bantuan doa dengan Kiai Abdurrahman Massum, atas izin Allah doa terijabah, jadi itu wujud terima kasih dari Angkatan Laut, membangun kapal yang digunakannya sebagai tempat wudu," kata Maksyur saat di wawancara
Langit7, Rabu (27/2/2022).
Konsep bangunan masjid lebih mengusung konsep klasik. Terlihat jelas pada bangunan masjid serta ruangan ibadah masjid yang masih mempertahankan nuansa zaman dulu dan nilai sejarah.
"Pada kubahnya lebih ke Demak dan di pucuk kubah yang sepeti penangkal petir ada sesuatu yang berharga bagi masjid," tuturnya.
Perahu yang menjadi ikon dari masjid ini digunakan sebagai fasilitas sarana berwudu dan ada kamar mandi pula. Selain itu, di bagian atas perahu biasa dipakai untuk rapat para pengurus.
Baca Juga: Ada LGBT di Citayam Fashion Week, Kemenag Akan Adakan Penyuluhan(zhd)