LANGIT7.ID - , Jakarta - Belakangan ini istilah
klitih kembali ramai menjadi perbincangan, seiring adanya kasus dugaan aksi tersebut di Salaman, Magelang, Ahad (24/7/202) kemarin.
Sosiolog Universitas Negeri Jakarta, Syaifudin menyebut aksi klitih sebenarnya terjadi setiap tahun dan kebanyakan pelakunya merupakan remaja.
"Setiap tahun memang selalu terjadi klitih yang oknum pelakunya adalah anak-anak muda yang masih berstatus pelajar. Saya lihat ini terjadi karena kurangnya aktivitas positif anak-anak muda karena mereka kekurangan wadah," ujar Syaifudin kepada Langit7.
Baca juga: Speak Up, Cara Putus Mata Rantai Kekerasan di Dunia KerjaSyaifudin berharap pihak sekolah memberikan aktivitas positif bagi peserta didik dan memfasilitasi bakat mereka. Di samping itu, perlu juga ada sanksi tegas sebagai efek jera agar tidak menjadi imitasi sosial bagi peserta didik lain.
"Penanaman nilai-nilai yang positif juga harus ditanamkan melalui proses pembelajaran pada peserta didik," katanya.
Selain pihak sekolah, keluarga atau orang tua diharapkan tidak abai pada tumbuh kembang dan aktivitas anak. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah rutin memantau
media sosial sang buah hati.
"Sikap kepedulian orang tua terhadap aktivitas yang dilakukan anak-anaknya ini menjadi bagian dari kontrol sosial kepada anak-anak mereka. Orang tua hari ini harus bisa memahami media sosial internet untuk bisa memantau aktivitas media sosial dari anak-anaknya," tandas Syaifudin.
Menurut Syaifudin, pengawasan aktivitas melalui
ponsel mereka bisa jadi cara mencegah anak melakukan aksi klitih.
Baca juga: Selain Kemenkeu, 4 Kasus Kekerasan Ini Terjadi di Kantor PemerintahLebih lanjut, Syaifudin menyebut pemerintah daerah juga perlu memberikan sanksi yang tegas kepada setiap pelaku klitih, ketika sudah membahayakan orang lain, seperti pembunuhan.
Menurut dia, hal tersebut perlu ditangani secara serius, karena semakin ke depan perbuatan-perbuatan klitih akan terus berkembang dengan berbagai motif.
"Upaya untuk duduk bersama antara pihak
keluarga, sekolah maupun pemerintah daerah ini harus dilakukan, agar bisa meminimalisir dan menghilangkan klitih dari kehidupan di masyarakat. Sehingga masyarakat bisa menjalankan aktivitasnya dengan nyaman, aman dan tentu saja tidak penuh dengan ketakutan," pungkasnya.
Baca juga: Kekerasan di Dunia Kerja, Ketum DPN Permahi: Masuk Tindak Pidana(est)