LANGIT7.ID, Palembang - Seorang perajin kain Jumputan asal Kota Palembang, Cahya Sege, memanfaatkan limbah kulit jengkol untuk menjadi pewarna alami untuk kain yang diproduksinya.
Sege bercerita, awal mulanya dirinya mengikuti pelatihan pewarnaan alami kain yang diselenggarakan pemerintah setempat. Dari sana, akhirnya ia mencoba mengembangkan pewarnaan alami dari bahan alam yang ada di sekitar tempat tinggal.
“Kebetulan di sekitar rumah, saya melihat banyak limbah jengkol yang berserakan. Kemudian, saya kembangkan untuk pewarna kain dari bahan alam itu,” ujar pemilik Butik Palembang Sege ini, Senin (9/8).
Pemilihan kulit jengkol tersebut juga bukan tanpa alasan. Sebab, stoknya tak pernah habis dan bahan tersebut cukup mudah diperolehnya. Selain itu, dari kulit tersebut bisa menghasilkan warna yang unik dan khas karena warna yang dihasilkan pun tak didapat dari pewarna sintetis.
“Ya, kalau pakai bahan alam lainnya, seperti buah-buahan kan tergantung musim. Jadi, saya memilih pakai kulit jengkol itu, karena kami perlu bahan yang bisa rutin didapat,” kata dia.
Proses pembuatannya sendiri terbilang mudah. Dimana, kulit jengkol yang sudah dikumpulkan harus direndam dulu ke dalam air khusus, yakni air murni hasil penyulingan atau air hujan. Komposisinya, satu kilo bahan pewarna direndam dalam dua liter air selama 24 jam.
Setelah itu, air bersama bahan kemudian dipanaskan hingga mendapat setengah dari jumlah air tersebut. Dari 20 liter akan menjadi sepuluh liter. “Dari hasil pemanasan itulah yang akan dijadikan sebagai pewarna,” ucap dia.
Untuk mengatur kepekatan warna sendiri, pewarna dicampur dengan bahan lainnya sebagai pelekat warna. Mulai dari kapur, tawas, gula merah, dan tunjung atau besi dua sulfat. Misal, bahan tawas atau kapur nantinya bakal menghasilkan warna yang lebih muda. Sedangkan warna abu-abu dicampur menggunakan tunjung, kemudian coklat muda itu dicampur pakai gula merah.
“Jadi, kain bisa dicelup saja ke dalam bahan tersebut. Bisa juga kita siram. Kalau saya lebih memilih dengan cara menyiram bahan berulang-ulang ke kain jumputan yang akan diwarnai, karena itu bisa memperoleh warna yang kita mau,” jelas dia.
Di tengah pandemi Covid-19, dirinya kini memproduksi kain jumputan sekitar 20 kain berbentuk hijab dalam sepekan. Sedangkan untuk bahan kain ukuran tiga meter bisa satu sampai empat kain dalam sebulan.
“Hijab produksi kita dijual mulai dari Rp150.000. Kalau bahan kain itu dijual mulai dari Rp450 ribu,” tutup dia.
(zul)