LANGIT7.ID-, Jakarta- - Peneliti Pusat Riset Antariksa, Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, Farahhati Mumtahana, menyampaikan dengan rinci fenomena astronomi yang terjadi selama 2024. Ia menyebutkan, pada 3 Januari 2024 lalu misalnya, telah terjadi fenomena di mana Bumi mencapai perihelion, yaitu titik terdekat Bumi dengan Matahari.
“Kemudian Bulan Baru terjadi pada 11 Januari dan pada 12 Januari fenomena Merkurius pada elongasi barat maksimum di mana elongasi planet adalah sudut antara Matahari dan Planet dengan Bumi sebagai titik acuan. Ini merupakan waktu terbaik untuk melihat planet Merkurius,” ujar Farahhati, dalam acara BRIEF (BRIN Insight Every Friday), dikutip Rabu (10/1/2023)
Farah menambahkan, terdapat beberapa tanggal terjadinya peristiwa Elongasi Barat Maksimum Merkurius, di antaranya pada 9 Mei, 5 September dan 25 Desember. Sedangkan Elongasi Timur Maksimum Merkurius terjadi pada tanggal 24 Maret, 22 Juli dan 16 November.
Lebih lanjut ia menjelaskan, di bulan Februari hanya ada fenomena Bulan Baru pada 9 Februari dan Bulan Purnama pada 12 Februari. Selanjutnya di bulan Maret ada Bulan Baru pada 10 Maret dan Bulan Purnama pada 25 Maret. Lalu pada 20 Maret, terdapat fenomena Ekuinoks Maret di mana Matahari akan bersinar tepat di garis khatulistiwa dan jumlah siang dan malam hampir sama di seluruh dunia. Kemudian planet Merkurius mencapai elongasi timur terbesar pada 24 Maret.
Baca juga:
IKN Punya Magnet Kuat Bagi Investor, Termasuk Pariwisata dan Ekraf“Untuk mengamati fenomena-fenomena, perlu diperhatikan juga presentasi iluminasi bulan terkait fase bulan. Bulan baru lebih bagus untuk melakukan pengamatan, dibanding saat bulan purnama karena cahayanya terlalu terang, mengalahkan objek langit lainnya,” kata Peneliti Ahli Pertama BRIN tersebut.
Farah menambahkan juga kalender fase bulan dapat diperoleh dari berbagai sumber dan aplikasi moon phase, software stellarium.
Di 2024 ini akan terjadi 3 kali fenomena supermoon yakni di tanggal 18 September, 15 November dan 17 Oktober. Akan ada juga fenomena bluemoon, yaitu purnama ke-4 (fenomena ini ekstra karena biasanya dalam satu musim hanya ada 3 bulan purnama) yang terjadi tanggal 19 Agustus.
“Ada juga fenomena gerhana di tahun 2024, tetapi sayangnya tidak melintas di wilayah Indonesia. Namun dapat dijadikan pertimbangan jika ingin merencanakan wisata atau ekspedisi mengejar gerhana,” ujar Farah.
Beberapa fenomena gerhana yang terjadi:
1. Gerhana bulan penumbra pada 24-25 Maret akan melintasi wilayah Eropa, Asia utara/timur, Australia, Afrika, Amerika utara, Amerika selatan, Samudera pasifik, Atlantik, dan Antartika.
2. Gerhana matahari total pada 8 April akan melintas wilayah Eropa Barat, Amerika utara, Amerika selatan, Samudera Pasifik, Atlantik, Arktik.
3. Gerhana bulan sebagian pada 17-18 September akan melintasi Eropa, Asia, Afrika, Amerika utara, Amerika selatan, Samudera Pasifik, Atlantik, Hindia, Arktik, dan Antartika.
4. Gerhana matahari cincin pada 2 Oktober akan melintasi wilayah Amerika utara, Amerika selatan, Samudera Pasifik, Atlantik, dan Antartika.
Farah menjelaskan juga peristiwa menarik lainnya yang terjadi tahunan adalah hujan meteor. Hujan meteor terjadi ketika objek langit meteoroid terbakar saat memasuki atmosfer Bumi. Objek tersebut dapat berasal dari sisa komet atau asteroid yang yang juga mengorbit Matahari. Peristiwa puncak hujan meteor dapat dilihat pada tabel 1.2.
“Untuk berburu meteor, perlu diperhatikan iluminasi bulan, puncak kejadian, serta rasi bintang di dekat radian,” katanya.
1. Hujan meteor Quadrantids pada 3-4 Januari dengan kecepatan 80 KM perjam, konstelasi booters
2. April Lyrids pada 22-23 April, kecepatan 18 km/jam, konstelasi Lyra
3. Eta Aquariids pada 6-7 Mei, kecepatan 50 km/jam, konstelasi Aquarius
4. Southern Delta Aquarius pada 28-29 Juli, kecepatan 25 km/per jam, konstelasi Aquarius
5. Perseids pada 12-13 Agustus, kecepatan 100 km/jam, konstelasi Perseus
6. Draconid pada 7 Oktober, kecepatan 10 km/jam, konstelasi Draco
7. Orion pada 21-22 Oktober, kecepatan 20 km/jam, Orion
8. Taurid, 4-5 November, 10 km/jam, Taurus
9. Leonids pada 17-18 November, 10 km/jam, leo
10. Geminids pada 13-14 Desember, 150 km/jam, Gemini
11. Ursid pada 21-22 Desember, 10 km/jam, Ursa Minor
Mengamati hujan meteor dapat dilakukan dengan cara kita mencari tempat yang gelap dan berpandangan luas (tidak ada bangunan tinggi) bisa pegunungan atau pantai. Jika bisa berdiri di bawah radian di belahan manapun maka hujan meteor terlihat lebih banyak.
“Bisa juga dengan memakai tenda jadi sambil camping atau menyiapkan tempat duduk/sofa karena menunggu bisa lama sekali. Dan ketika sekali keluar bisa sangat banyak, tetapi jeda juga lama. Sambil mengobrol dengan teman dan bawa bekal juga akan mengasyikan,” tutur Farahhati.
Di akhir paparan Farah mengingatkan bahwa tidak ada fenomena yang langsung berdampak pada kehidupan manusia. Kalaupun bisa, karena berada dalam lingkungan antariksa dampaknya tidak akan terlalu terasa. Meskipun ada untuk fenomena-fenomena tertentu saja seperti cuaca antariksa.
“Mari kita abadikan salah satu atau beberapa fenomena tersebut dan menjadikannya memori dari pengalaman yang indah, yang mungkin bisa jadi sekali seumur hidup,” tuturnya.
Fenomena astronomi Januari-Juni 2024
- 3 Januari, Bumi mencapai Perihelion
- 3-4 Januari, Hujan Meteor Quadrantids
- 11 Januari, Bulan Baru
- 12 Januari, Elongasi Barat Maksimum Merkurius
- 25 Januari, Bulan Purnama
- 9 Februari, Bulan Baru
- 24 Februari, Bulan Purnama
- 10 Maret, Bulan Baru
- 20 Maret, Ekuinoks Maret
- 24 Maret, Elongasi Timur Maksimum Merkurius
- 25 Maret, Bulan Purnama
- 25 Maret, Gerhana Bulan Penumbra
- 8 April, Bulan Baru
- 8 April, Gerhana Matahari Total
- 22 April, Hujan Meteor Lyrids
- 23 April, Bulan Purnama
- 6-7 Mei, Hujan Meteor Eta Aquariids
- 8 Mei, Bulan Baru
- 9 Mei, Elongasi Barat Maksimum Merkurius
- 23 Mei, Bulan Purnama
- 6 Juni, Bulan Baru
- 20 Juni, Titik Balik Matahari Juni
- 22 Juni, Bulan Purnama
Fenomena astronomi Juli - Desember 2024
- 5 Juli, Bulan Baru
- 21 Juli, Bulan Purnama
- 22 Juli, Elongasi Timur Maksimum Merkurius
- 28-29 Juli, Hujan Meteor Delta Aquriids
- 4 Agustus, Bulan Baru
- 12-13 Agustus, Hujan Meteor Perseids
- 19 Agustus, Bulan Purnama, Bulan Biru
- 3 September, Bulan Baru
- 5 September, Elongasi Barat Maksimum Merkurius
- 8 September, Oposisi Saturnus
- 18 September, Bulan Purnama, Supermoon
- 18 September, Gerhana Bulan Sebagian
- 20 September, Oposisi Neptunus
- 22 September, Ekuinoks September
- 2 Oktober, Bulan Baru
- 2 Oktober, Gerhana Matahari Cincin
- 7 Oktober, Hujan Meteor Draconid
- 17 Oktober, Bulan Purnama
- 21-22 Oktober, Hujan Meteor Orion
- 1 November, Bulan Baru
- 15 November, Bulan Purnama, Supermoon
- 16 November, Elongasi Timur Maksimum Merkurius
- 17 November, Oposisi Uranus
- 4-5 November, Hujan Meteor Taurid
- 17-18 November, Hujan Meteor Leonids
- 1 Desember, Bulan Purnama
- 7 Desember, Oposisi Jupiter
- 13-14 Desember, Hujan Meteor Geminid
- 15 Desember, Bulan Purnama
- 21 Desember, Titik Balik Matahari Desember
- 21-22 Desember, Hujan Meteor Ursids
- 25 Desember, Elongasi Barat Maksimum Merkurius
- 30 Desember, Bulan Baru
(ori)