LANGIT7.ID, Jakarta - Muhammad Saihul Basyir merupakan sosok pemuda yang memiliki daya serap otak amat dahsyat. Putra ke-8 dari pasangan Mutammimul Ula dan Wirianingsih itu sudah menghafal Al-Qur’an 30 juz saat duduk di kelas 6 SD.
“Saya mulai belajar Al-Qur’an sejak kecil. Saya diajari oleh ayah dan Ibu saya. Sejak kecil dimasukkan di pesantren Quran, sehingga Allah mudahkan dalam waktu singkat, menghafal Al-Qur’an ketika 6 SD,” kata Basyir kepada LANGIT7.ID, Kamis (4/8/2022) malam.
Setelah belajar langsung dari sang ayah dan Ibu, Basyir dimasukkan ke pondok pesantren. “Lalu lanjut ketika SMP dan SMA untuk menghafal Al-Qur’an di pondok pesantren,” katanya.
Baca Juga: Rahasia Wirianingsih Berhasil Didik 11 Anak Jadi Penghafal Al-Quran
Pemuda 26 tahun ini tercatat pernah menjadi santri di Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an Kudus, SDIT Al Hikmah Pela Mampang Jakarta Selatan, Pesantren Terpadu Darul Qur’an Mulia, dan mahasiswa Ilmu Syariah LIPIA Jakarta.
Meski menyandang status sebagai hafidz Qur’an, tapi Basyir tak pernah berhenti menuntut ilmu. Dia terus memperdalam ilmu Al-Qur’an dengan mendapatkan sanad.
Di bidang Al-Qur’an, Basyir memegang sanad Hafs an Ashim Thariq Syatibiyah. Dia juga memegang sanad beberapa matan ilmu seperti Tuhfatul Athfal dan matan jazariyah.
“Sanadnya beberapa dari Madinah, ada dari Mesir, ada dari Syam, ada dari Indonesia,” kata Basyir.
Bada Juga: Kunci Sukses Saihul Basyir Jadi Bintang Al-Qur'an, Hafal 30 Juz Sejak Kelas 6 SD
Selain itu, dia telah menghafal ribuan hadits. “Hafalan hadits hanya fokus di matan dan Syarah hadits, sanad belum,” ucapnya.
Dia berhasil menghafal sebanyak 1.682 hadits jilid 3 kita jam’u shahihain di Masjid Nabawi dalam waktu 7 hari dari target 14 hari.
“Kami dulu hafal hadits sekitar dua jilid, alhamdulillah sekitar 1000 matan hadits, hadits shahih bukhari dan muslim,” kata Basyir.
Basyir tak melupakan didikan orang tua dalam mencapai kesuksesan-kesuksesan tersebut. Dia mengaku sudah dididik dekat dengan Al-Qur’an sejak dini. Itu terus membekas sampai saat ini.
Baca Juga: Kisah Muzammil Hasballah Perdalam Ilmu Quran di Tengah Kesibukan Kuliah di ITB
“Pelajaran penting dari ibu adalah untuk mencintai terus Al-Qur’an. Bagaimanapun kondisinya, mau lagi susah, lagi senang, untuk mencintai Al-Qur’an. Mau hafalan lancar, mau hafalan banyak, yang penting cinta kepada Al-Qur’an. Itu yang nanti akan menjadikan kita hamalatul Quran,” kata Basyir.
Basyir tak ingin sampai di situ. Sampai saat ini dia masih terus memperdalam ilmu Qur’an dan qiraat serta berdakwah. Ilmu-ilmu tersebut penting untuk menjadi seorang pendakwah di bidang Al-Qur’an.
“Ke depannya, menyelesaikannya langkah-langkah yang disarankan kepada kami, itu untuk mempelajari ilmu Quran dan ilmu qiraat, ilmu dakwahnya sambil jalan,” ujar Basyir.
Baca Juga: 13 Prinsip Menghafal Al-Quran Seperti Rasulullah dan Para SahabatDia mengungkapkan, ada dua pelajaran penting yang dipetik dari orang tuanya dalam mendidik anak. Dua hal penting itu adalah lingkungan dan guru. Lingkungan termasuk di dalamnya teman-teman yang shalih.
“Mau di manapun, mau di pesantren, Jangan pernah tinggalkan guru, jangan pernah tinggalkan teman-teman. Teman yang baik akan membawa kita terus bertahan bersama Al-Qur’an,” pungkasnya.
(jqf)