LANGIT7.ID, Jakarta - Rektor Universitas Darussalam (Unida) Gontor, Prof. Dr. KH Hamid Fahmy Zarkasyi, mengatakan, kondisi Indonesia saat ini sudah diantisipasi oleh ilmuwan besar muslim, Ibnu Khaldun. Hal itu berdasarkan pandangan Ibnu Khaldun tentang rusaknya sebuah negara.
Prof Hamid menjelaskan, rusaknya sebuah bangsa dimulai dari individu. Ada tiga kategori individu bisa dianggap merusak sebuah bangsa. Pertama, tindakan amoral marak di tengah masyarakat.
“Tindakan-tindakan amoral itu bisa korupsi, bisa perzinahan, bisa penipuan, dan sebagainya,” kata Prof Hamid, dikutip kanal Menuju Peradaban Islam, Senin (8/8/2022).
Hal tersebut kian diperparah oleh penggunaan pena dan pedang secara tidak tepat. Penguasa menggunakan kekerasan dalam mengurai masalah di tengah masyarakat, meski menyalahi aturan sebuah bangsa yang beradab.
Baca Juga: Revolusi Pendidikan Karakter Kunci Menuju Bangsa yang Maju“Menggunakan pedang dalam arti modern yaitu menggunakan senjata untuk selesaikan persoalan dengan rakyat, berarti sudah tanda-tanda kemunduran,” ungkap Kiai Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor itu.
Hal itu makin diperparah jika masyarakat juga menggunakan kekerasan fisik dalam menyelesaikan masalah. Tidak ada lagi kepercayaan pada penegak hukum. Tidak ada lagi fikiran untuk menyelesaikan masalah melalui jalan negosiasi dan argumentasi yang kuat.
Kedua, pelanggaran hukum terjadi secara masif. Orang melanggar hukum dianggap biasa saja. Hamid memberikan contoh sederhana. Misal perlihal aturan lalu-lintas. Di Jakarta, busway diberi jalur khusus, tapi kerap digunakan oleh kendaraan pribadi.
“Kadang-kadang argumentasinya, peraturan bukan untuk diikuti tapi untuk dilanggar,” kata Prof Hamid. Hidup bermewah-mewahan ini membunuh jiwa sosial. Sering ditemui masih ada orang bersenang-senang di atas penderitaan orang terkena musibah.
Ketiga, fokus masyarakat pada materialisme. Jiwa raga semua masyarakat difokuskan hanya untuk mencari nafkah. Kerap di layar lebar terlihat anak-anak kecil sudah dieksploitasi untuk kepentingan cuan.
Baca Juga: Din Syamsuddin: Islamofobia Merupakan Sumber Malapetaka Peradaban“Harapannya supaya nanti dia menjadi artis, dan jadi artis itu bisa menolong kehidupan orangtuanya. Materi lagi. Setelah dia menjadi artis, kehidupan individu dan keagamaannya tidak penting,” ucap Prof Hamid.
Keempat, rendahnya komitmen masyarakat terhadap agama. Ini sudah menjadi fenomena umum di Indonesia. Jika komitmen itu sudah hilang, maka Allah akan mengangkat semua ilmu dari dunia ini.
Di satu sisi, penguasa juga tidak menggunakan agama sebagai pedoman utama. Bila akhlak penguasa sudah rusak, maka secara perlahan bangsa akan rusak pula. Akhirnya marak ketidakadilan atau pun penindasan.
“
Abuse of power, menggunakan kekuasaan untuk menindas rakyat, yang itu tidak proporsional dan tidak adil. Ini tandanya bangsa ini akan rusak,” ucap Prof Hamid.
Kelima, penguasa ikut berbisnis. Ibnu Khaldun sudah mengantisipasi dan mengingatkan agar penguasa tidak ikut berbisnis. Pebisnis yang berada di lingkaran penguasa akan berfikir mengembalikan modal.
“Inilah sebenarnya yang membuat rusaknya penguasa itu, karena penguasa akan berpikir bahwa kekuasaan adalah uang,” ujar Prof Hamid.
(jqf)