LANGIT7.ID, Jakarta - Rektor Universitas Darussalam (Unida) Gontor,
Prof. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, menegaskan, Al-Qur’an merupakan sumber utama bagi umat manusia dalam membangun
peradaban di muka bumi.
Al-Qur’an mengandung tiga nilai penting yang tidak boleh dipisahkan satu sama lain. Tiga nilai penting itu adalah Islam sebagai syariat atau ilmu, Islam sebagai iman atau akidah, dan Islam sebagai amal atau akhlak. Lewat nilai-nilai itulah, Allah menurunkan Al-Quran sebagai pembentuk adab dan peradaban manusia.
Tiga nilai tersebut sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Ibunda Aisyah RA mengatakan, Rasulullah adalah Al-Qur’an berjalan. Baginda Nabi merupakan representasi dari wahyu yang Allah turunkan kepada manusia di muka bumi.
Baca Juga: Rektor Unida Gontor: Islam Bukan Hanya Agama tapi Juga Peradaban
“Al-Qur’an adalah kitab suci, bukan buku teknologi ataupun sains. Al-Qur’an menjadi petunjuk dan pembeda. Di dalam adanya ada etika, tauhid, penciptaan, akhir akhir, alam semesta, ilmu pengetahuan kenabian, ibadah,” kata Prof Hamid dalam kajian Insists yang diikuti
Langit7 secara daring, Sabtu (7/1/2023).
Artinya, jika dibaca, dipelajari dan diamalkan, Al-Qur’an menjadi petunjuk untuk kehidupan manusia di dunia dan di akhirat. Hal ini bisa dipahami ketika Al-Qur’an lebih banyak membahas sejarah. Itu karena peradaban manusia sebenarnya tidak pernah berubah.
Prof Hamid menyebut pada hakikatnya era Nabi Adam AS sama saja dengan era modern. Hanya saja manusia hidup dalam bentuk generasi serta tempat dan waktu yang berbeda. Tapi inti dari kehidupan tetap sama. Al-Qur’an membahas sejarah agar menjadi pengingat bagi manusia.
“Al-Qur’an tahu bahwa itulah sifat manusia, makanya sejarah diperlukan. Supaya manusia mengingat bahwa apapun bentuk teknologi dan sains, ujungnya manusia akan tetap seperti manusia pada zaman dulu,” kata Prof Hamid.
Baca Juga: Trensains Ajarkan Islam dan Sains dalam Satu Tarikan Nafas
Kejahatan Qabil membunuh Habil masih ada sampai sekarang. Demikian pula karakter manusia yang menyukai harta dan kendaraan. Semua sifat-sifat itu tergambar dalam sejarah yang dikisahkan Al-Qur’an.
Karakter buruk manusia itu hendak diperbaiki oleh Al-Quran. Dengan begitu Al-Qur’an jadi sumber peradaban Islam. Al-Qur’an diisi mengenai ayat-ayat keimanan, alam semesta, hingga sosial-politik dan ekonomi. Imam Al-Ghazali mendefinisikan, di dalam Adab terkandung perkataan, perbuatan, dan keyakinan.
“Orang berbuat sesuatu dan mengatakan sesuatu berdasarkan keyakinannya. Orang berbuat baik karena yakin kebaikan akan berdampak pada orang lain. Prof Al-Attas mengatakan, adab adalah kombinasi antara ilmu, iman, dan amal. Orang beradab adalah orang yang beramal sesuai dengan syariat, akidah, dan akhlak,” ucap Prof Hamid.
Baca Juga: Peradaban Islam Pernah Berjaya, Inilah Penyebab Keruntuhannya
Maka itu, kata Prof Hamid, kata kunci dalam Al-Qur’an adalah tiga nilai itu. Islam sebagai syariat atau ilmu, Islam sebagai iman atau akidah, dan Islam sebagai amal atau ahlak.
“Masalahnya, kadang kita melihat Islam hanya sebagai syariat, ada juga hanya sekadar ilmu, ada pula sekadar akidah saja. Ini kesalahan-kesalahan dalam memahami Islam,” ungkap Prof Hamid.
(jqf)