LANGIT7.ID, Jakarta - Rektor Universitas Darussalam (Unida) Gontor,
Prof. Dr. KH Hamid Fahmy Zarkasyi, menegaskan, Islam merupakan agama sekaligus
peradaban. Islam kerap kali dipandang sebatas agama yang meliputi urusan ritual semata. Itu terjadi karena dikotomi antara agama dan peradaban.
“Islam itu sebuah peradaban, tidak hanya sebagai agama. Di Barat orang tidak mau melihat Islam sebagai peradaban, karena kalau dia peradaban, dia akan peradaban versus peradaban,” kata Prof Hamid dalam kajian yang digelar Insists diikuti
Langit7 secara daring, Sabtu (7/1/2023).
Dikotomi itu pula yang melahirkan pemahaman keliru di tengah umat Islam. Ada sekelompok muslim yang hanya mengartikan Islam sebagai ritual di masjid, tidak berkaitan dengan ekonomi, politik, dan sosial.
Baca Juga: Memahami Makna Worldview dalam Sudut Pandang Islam
Ada pula kelompok muslim yang mengartikan Islam sebatas muamalah antarsesama manusia saja. Tidak ada hubungan antara manusia dan Tuhan. Ada pula yang beranggapan hanya ingin menghidupkan kultur Islam di tengah masyarakat, meski tidak diikuti oleh syariat.
“Soal syariat itu lain, tapi bagaimana kultur Islam hidup di tengah masyarakat,” kata Prof Hamid.
Prof Hamid menjelaskan, Islam adalah
Din (agama) dan
Tamaddun (adab dan peradaban).
Tamaddun (peradaban) tercipta dari agama. Akar kata dari tamaddun adalah
daynun,
dayana,
daan, dan
dayyan. Kosakata itu berputar dari akar kata Din (agama).
Di dalam kata Din ada struktur. Dalam bahasa Arab arti asli dari kata
Ad-Din adalah hutang. Artinya, ada yang memberi hutang dan harus membayar hutang. Dalam kehidupan, Allah adalah pemberi hutang.
“Kemudian Al-Qur’an adalah hukum bagaimana membayar hutang. Manusia adalah daain, pembayar hutang. Bayarnya dengan cara berbuat baik sesuai dengan syariat Islam,” kata Prof Hamid.
Baca Juga: Perbedaan Cara Islam dan Barat Memandang Realitas dan Kebenaran
Al-Qur’an pun sudah menegaskan, manusia hidup di muka bumi untuk
ma’rifatullah (mengenal Allah). Hal ini bisa dilacak dalam Surah Al-Hadid ayat 8:
وَمَا لَكُمْ لَا تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۙ وَٱلرَّسُولُ يَدْعُوكُمْ لِتُؤْمِنُوا۟ بِرَبِّكُمْ وَقَدْ أَخَذَ مِيثَٰقَكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
Artinya: Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah padahal Rasul menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Tuhanmu. Dan sesungguhnya Dia telah mengambil perjanjianmu jika kamu adalah orang-orang yang beriman.
Sebelum lahir sudah ada perjanjian antara calon manusia dan Allah untuk hidup dengan cara Islam.
“Manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, yaitu mengenal Allah. tidak kosong seperti teori psikologi Barat. fitrah manusia itu mengikuti nuraninya yang sudah mengenal Tuhan lalu menyembah Tuhan,” kata Prof Hamid.
Baca Juga: Rektor UII: Peradaban Islam Bisa Bangkit dengan Keterbukaan dan Kolaborasi
Maka itu, kata dia, Islam sebenarnya menaati hukum (syariat), berbuat baik, menuruti fitrah, lalu beribadah.
Kemudian, kata Din itu tiba-tiba menjadi kata Madinah. Rasulullah mengganti Yatsrib menjadi Madinah. Akar kata dari Madinah adalah Din. Kata Madinah adalah tempat di mana Din dipraktikkan. Madinah adalah kota yang beradab.
“Kata
madana dalam bahasa Arab artinya berbudaya. Dari sini muncul kata tamaddun. Singkat katanya, di sinilah Islam sebagai Din dan Tamaddun. Di dalam Din sudah terdapat indikasi bahwa agama Islam adalah agama yang akan berkembang menjadi sebuah peradaban. Ada struktur hukum,” ucap Prof Hamid.
Tamaddun merupakan bahasa hadits.
Tamaddun diartikan sebagai jamuan, bukan hanya jamuan makanan saja. Tetapi, Allah sudah menjamu manusia dengan struktur pembangun peradaban seperti aturan politik, ekonomi, sosial, hingga masalah-masalah individual horizontal dan vertikal.
“Peradaban berasal dari hadits,
Inna hadzal quran Ma’dubatullahi fahudzu minhu masthata’tum (Al-Qur’an ini adalah jamuan makan (
ma’dhubah), maka ambillah dari padanya semampu kalian),” kata Prof Hamid.
(jqf)